Virus Corona Merebak, Kesaksian Dokter di Wuhan: Semua Orang Ketakutan, Terjebak dan Tak Bisa Pergi

Nathania Riris Michico ยท Jumat, 24 Januari 2020 - 12:08 WIB
Virus Corona Merebak, Kesaksian Dokter di Wuhan: Semua Orang Ketakutan, Terjebak dan Tak Bisa Pergi

Seorang penumpang berdiri di aula kedatangan di stasiun kereta Wuhan yang hampir sepi (FOTO: AFP Photo / HECTOR RETAMAL)

WUHAN, iNews.id - Kota Wuhan, yang menjadi sumber virus corona baru, aksesnya ditutup untuk mencegah penyebaran wabah. Kini virus corona menyebabkan 25 orang meninggal dunia.

Penutupan ini dilakukan di tengah rencana sebagian besar warga Wuhan, yang berjumlah 11 juta, mempersiapkan perayaan Imlek. Setelah Wuhan ditutup, Kota Huanggang juga ditutup untuk menekan penyebaran virus.

Seorang dokter di rumah sakit Wuhan mengatakan kepada BBC News tentang kekhawatirannya ketika wabah itu mulai menyebar. BBC memutuskan tidak menyebutkan identitas dokter demi keamanan.

"Ini adalah kasus epidemi pertama yang saya terlibat. Saya pertama kali mendengar virus corona pada 31 Desember, ketika muncul beberapa kasus. Namun dalam dua pekan terakhir, ada tingkat penyebaran yang mengkhawatirkan. Saya takut karena ini adalah virus baru dan angkanya mengkhawatirkan," kata sang dokter kepada BBC, Jumat (24/1/2020).

Dia mengatakan, rumah sakit sudah dibanjiri pasien, ada ribuan, dan dia belum pernah melihat begitu banyak pasien sebelumnya.

"Mereka harus menunggu berjam-jam sebelum menemui dokter -Anda dapat membayangkan kepanikan mereka. Ini virus baru, jadi tidak banyak informasi."

Masa inkubasi, kata dia, biasanya tujuh hari, dengan periode minimum dua hingga tiga hari dan periode maksimum 10 hingga 12 hari.

Virus ini menyebar melalui penularan dari manusia ke manusia dan ada juga akibat infeksi yang dialami staf medis. Virus dapat bermutasi, sehingga ada risiko penyebaran lebih lanjut.

Para dokter spesialis di rumah sakit tempatnya bekerja sudah membuat panduan cepat untuk mendiagnosa dan perawatan setelah mempelajari para pasien yang dirawat.

"Demam adalah gejala utama akibat virus ini. Batuk kering, sesak napas, dan diare adalah gejala utama lainnya. Beberapa pasien mengalami pilek," kata dia, menjelaskan.

Pasien yang terpapar parah mengalami masalah pernapasan akut dan septic shock. Tetapi kebanyakan pasien memiliki prognosis yang baik.

Virus ini lebih berbahaya bagi orangtua, orang hamil atau orang-orang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah.

Pemerintah China sudah merespons dengan baik untuk mencoba menghentikan penyebaran virus. Perayaan Tahun Baru Imlek, dalam skala tertentu, juga sudah dibatalkan.

"Di luar rumah sakit, saya nyaris tidak melihat orang-orang yang hilir-mudik di jalanan. Kami diberitahu agar tidak berkumpul atau berkerumun."

"Kami diberitahu dua hari yang lalu agar tidak ke rumah sakit, karena risiko penyebaran virus. Apabila kita meninggalkan rumah kita, kita harus memakai masker. Apabila kita tidak mengenakannya dianggap melawan hukum," paparnya.

"Kami tidak ingin membawa putra kami yang berumur dua tahun ke luar rumah. Dia sekarang tidur dan kami berusaha melindunginya sedemikan rupa -mencuci tangannya hingga menghindari kontak dengan orang-orang di luar."

"Saya takut akan terjadi sesuatu pada anak saya. Saya khawatir dengan jumlah kematian yang terus meningkat," aku sang dokter.

Dia pergi ke supermarket untuk membeli makanan, tetapi tidak ada yang tersisa - tidak ada sayuran; dan di mana-mana pusat penjualan makanan tutup.

"Hari ini, semenjak pukul 10.00, semua akses keluar-masuk kota sudah ditutup -tidak ada orang yang masuk atau keluar. Orang tidak diizinkan pergi. Kami tidak tahu berapa lama ini akan berlangsung," lanjutnya.

Biasanya, menurut dia, Wuhan adalah tempat yang nyaman untuk ditinggali. Dia juga bangga dengan profesi dokter.

Namun dia mengaku semakin khawatir wabah ini akan semakin buruk. Tidak ada obat anti-virus, jadi menurutnya hanya bisa diobati secara simtomatik -mengurangi demam dan jangan sampai mengalami dehidrasi.

"Saat ini, semua orang fokus kepada upaya pencegahan. Masyarakat yang memperoleh berbagai pesan dari pihak berwenang melalui telepon genggam, yang antara lain disarankan agar melakukan tindakan pencegahan dan apa yang harus dilakukan jika mengalami gejala-gejala terjangkit virus itu," ujarnya.

Menurutnya, upaya pembatasan sulit dilakukan karena masa inkubasi satu pekan -masyarakat mungkin bepergian tanpa menyadari bahwa mereka sudah terjangkit virus. Ini artinya jumlah sebenarnya orang yang terinfeksi kemungkinan lebih tinggi.

"Kami berencana tinggal di rumah, tidak membawa anak kami ke luar. Kami akan fokus pada kebersihan, serta beberapa latihan ringan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh."

"Sejumlah mahasiswa sudah membeli tiket untuk pulang ke kampung halaman untuk merayakan Imlek, tetapi mereka memutuskan tidak bisa pergi sekarang. Semua orang terjebak di sini dan tidak bisa pergi," tutupnya.


Editor : Nathania Riris Michico