Warga Hong Kong Ganti Lagu Kebangsaan China dengan 'Glory to Hong Kong'

Anton Suhartono ยท Kamis, 12 September 2019 - 12:56 WIB
Warga Hong Kong Ganti Lagu Kebangsaan China dengan 'Glory to Hong Kong'

Ratusan warga Hong Kong berkumpul di mal Shatin menyanyikan Glory to Hong Kong (Foto: AFP)

HONG KONG, iNews.id - Demonstran Hong Kong membuat lagu kebangsaan sendiri sebagai bentuk upaya memisahkan diri dari China. Lagu berjudul 'Glory to Hong Kong' itu pertama kali diperkenalkan melalui YouTube pada 31 Agutsus 2019.

Sejak muncul di situs berbagi video itu, Glory to Hong Kong mendapat sambutan luas dengan disaksikan lebih dari 1,3 juta kali dan selalu didengungkan di berbagai kesempatan aktivitas prodemorkrasi.

Saat aksi unjuk rasa di Sha Tin pada Rabu (11/9/2019) malam, ratusan demonstran berkumpul dan menyanyikannya, meski banyak dari mereka masih harus melihat liriknya di secarik kertas.

"Untuk seluruh air mata di tanah kami. Apakah Anda merasakan kemarahan dalam tangisan kami," begitu terjemahan lirik pembukaan lagu.

"Bangkit dan bicara lah, suara kita bergema. Kebebasan akan menyinari kita".

Sedikit hal diketahui mengenai pembuatan lagu ini, hanya seseorang yang memberikan nama samaran "Thomas dgx yhl" sebagai penciptanya.

Tak hanya demonstrasi, lagu ini juga dibawakan dalam pertandingan sepak bola kualifikasi Piala Dunia 2022 antara Hong Kong dan Iran pada Selasa (10/9/2012) malam. Para suporter malah mencemooh lagu kebangsaan China yang diputar di awal pertandingan, kemudian menyanyikan Glory to Hong Kong begitu pertandingan dimulai.

Menghina bendera dan lagu kebangsaan China merupakan pelanggaran di negara itu, meski aturan tersebut tak berlaku di Hong Kong, wilayah semiotonomi.

Seorang warga, Christopher Chung (22), berencana menyanyikan lagu baru ini untuk menggantikan lagu kebangsaan China 'March of the Volunteers'.

Demikian halnya remaja 16 tahun Billy. Dia bahkan menegaskan tak menyukai lagu kebangsaan China.

"Kami benar-benar tidak menyukai lagu kebangsaan China. Itu sebabnya kami ingin menyanyikan lagu kebangsaan Hong Kong," tutur Billy.

Aksi unjuk rasa di Hong Kong yang berlangsung 4 bulan terakhir dipicu oleh rencana pemimpin kota Carrie Lam untuk mengesahkan RUU ekstradisi. Dalam aturan itu, para penjahat Hong Kong bisa diadili di China daratan serta negara lain yang menjalin kerja sama.

Lam memang sudah mencabut RUU itu, namun para aktivis prodemokrasi belum puas. Pasalnya ada empat tuntutan lain yang belum dipenuhi, di antaranya penyelidikan independen atas kekerasan polisi terhadap demonstran dan digelarnya pemilu demokratis untuk memilih pemimpin. Selama ini pemimpin Hong Kong dipilih langsung oleh pemerintah China.

Editor : Anton Suhartono