Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Jangan Panik! Wabah Pes Rusia Kecil Kemungkinan Masuk Indonesia dan Jadi Pandemi Baru
Advertisement . Scroll to see content

WHO Pantau Kasus Dugaan Pes Rusia, Ini Pesan untuk Dunia!

Selasa, 06 Oktober 2026 - 12:06:00 WIB
WHO Pantau Kasus Dugaan Pes Rusia, Ini Pesan untuk Dunia!
Rusia tengah menghadapi wabah diduga pes. (Foto: X)
Advertisement . Scroll to see content

Masa inkubasi penyakit pes umumnya berkisar antara satu hingga tujuh hari. WHO menyebut penyakit ini dapat menjadi sangat berat, terutama apabila tidak segera ditangani.

Namun, pes bukan penyakit yang tidak dapat diobati. WHO menegaskan antibiotik efektif untuk melawan bakteri penyebab pes sehingga diagnosis dan pengobatan secara dini sangat penting untuk menyelamatkan nyawa.

Masyarakat Diminta Tidak Panik

WHO hingga kini belum menyatakan kasus di Siberia sebagai wabah pes yang menyebar luas. Penilaian risiko terhadap masyarakat umum yang masih tergolong rendah juga menjadi alasan agar publik tidak langsung menyimpulkan kasus tersebut sebagai ancaman pandemi baru.

Terlebih, penyebab kematian pekerja laboratorium tersebut masih dalam penyelidikan. Otoritas Rusia menyatakan situasi epidemiologis di wilayah Irkutsk dan Shelekhov tetap stabil setelah dilakukan pemantauan terhadap orang-orang yang memiliki kontak dengan korban.

Di sisi lain, kewaspadaan tetap diperlukan. Pes pneumonik memang dapat menular melalui partikel pernapasan, sehingga orang yang mengalami gejala dan memiliki riwayat paparan perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis.

WHO juga mencatat pes masih menjadi penyakit endemis di sejumlah negara. Dalam laporan terbarunya, WHO mencatat bahwa sepanjang 2019 hingga 2025 terdapat ribuan kasus suspek pes yang dilaporkan dari sejumlah negara, dengan kasus terkonfirmasi terutama berasal dari wilayah endemis seperti Republik Demokratik Kongo dan Madagaskar. 

Dengan kondisi tersebut, masyarakat Indonesia tidak perlu panik akibat kasus dugaan pes di Rusia. Namun, perkembangan situasi tetap perlu dipantau sambil menunggu hasil penyelidikan dan konfirmasi lebih lanjut dari otoritas kesehatan Rusia maupun lembaga kesehatan internasional.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut