Banyak Warga Beralih ke Transportasi Umum akibat Ganjil Genap, Ini Kata Wagub

Fakhrizal Fakhri ยท Jumat, 04 September 2020 - 15:28 WIB
Banyak Warga Beralih ke Transportasi Umum akibat Ganjil Genap, Ini Kata Wagub

Ilustrasi ganjil genap. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id - Warga dinilai banyak beralih ke transportasi umum akibat ganjil genap. Hal itu dinilai berbahaya karena kerumunan makin padat di transportasi umum.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan, kebijakan ganjil-genap diterapkan di DKI Jakarta saat PSBB transisi fase I guna membatasi orang keluar rumah dengan kendaraan pribadi.

"Dulu kan sebelum pandemi untuk menbatasi kepadatan. Kedua, selama pandemi kita tiadakan. Di PSBB transisi, berlakukan kembali di awal Agustus untuk selain mengurangi kemacetan juga untuk membatasi warga keluar rumah," kata Ariza di Balai Kota, Jakarta, Jumat (4/9/2020).

Menurut dia, warga yang mempunyai mobil dengan nomor ganjil secara otomatis tidak akan keluar rumah saat hanya kendaraan genap yang diperbolehkan. "Biar orang mengatur ,'oh mobil saya ganjil yasudah'. Untuk mengatur orang yang keluar acara belanja bertemu teman-teman," ucapnya.

Politisi Gerindra itu memastikan akan mengecek adanya kenaikan 3,5% yang beralih ke transportasi umum. Dia juga akan membahas saran dari Kasatgas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo.

"Terkait dengan meningkatnya 3,5% orang yang beralih ke umum kita cek. Apakah betul karena ganjil-genap karena kalau mau jujur kan yang naik kendaraan kan berkurang karena tidak bekerja karena WFH," katanya.

Ariza memperkirakan kenaikan 3,5 persen warga naik angkutan umum juga bisa disebabkan karena perekonomian warga yang buruk karena dampak Covid-19. Menurutnya, warga yang biasa menggunakan kendaraan pribadi beralih ke moda transportasi umum.

"Orang yang meningkat di kereta dan bus itu kita cek. Mungkin karena ekonomi. Tentu apa yang jadi perhatian Pak Doni akan kita perhatikan akan kita evaluasi dengan Dishub dan Polda Metro Jaya. Prinsipnya semua yang diambil selalu kita diskusikan," katanya.

Editor : Muhammad Fida Ul Haq