El Nino Berdampak Kemarau Panjang, Pramono Soroti Risiko Kebakaran di Permukiman Padat
“Salah satu hal yang perlu kita tangani serius adalah berkaitan dengan kebakaran. Karena El Nino yang panjang ini, dan mudah-mudahan awal Oktober ini segera bisa turun hujan,” kata dia.
Menurutnya, kondisi kering dalam waktu panjang membuat kebakaran dapat dipicu hal-hal sederhana. Beberapa di antaranya seperti korsleting listrik, puntung rokok yang dibuang sembarangan, hingga paparan panas dalam waktu lama.
“Karena dalam kondisi kering panjang yang seperti ini, di lapangan itu kebakaran sangat sering terjadi dari hal-hal kecil. Kadang-kadang puntung rokok, korsleting, kemudian panas yang terlalu lama. Sehingga dengan demikian, saya meminta betul kepada seluruh jajaran untuk mengantisipasi, menjaga hal ini,” ucapnya.
Pramono secara khusus menyoroti kawasan padat penduduk seperti Tambora dan Cakung. Menurutnya, kepadatan permukiman ditambah kondisi kering dapat meningkatkan risiko kebakaran.
“Karena sekarang ini kemungkinan untuk kebakaran itu potensinya tinggi sekali, terutama daerah-daerah yang padat penduduk seperti Tambora, Cakung, dan sebagainya, seringkali kebakarannya dari hal-hal yang sederhana, apakah korsleting listrik, puntung rokok, dari sampah, dan sebagainya dan sebagainya,” tuturnya.
Selain meningkatkan mitigasi kebakaran, Pemprov DKI Jakarta juga berupaya memanfaatkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu menghasilkan hujan dan mengurangi risiko bencana.
“Saya terus terang, kalau mau hujan itu selalu berdoa. Mudah-mudahan intervensi kita, TMC kita itu betul-betul bisa menghasilkan hujan,” ujar Pramono.
Editor: Aditya Pratama