Pasien Klinik Aborsi di Paseban Bisa Dijerat Pidana

Irfan Ma'ruf ยท Selasa, 18 Februari 2020 - 16:44 WIB
Pasien Klinik Aborsi di Paseban Bisa Dijerat Pidana

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus. (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id – Kasus klinik aborsi di kawasan Paseban, Jakarta Pusat, selain menjerat pidana dokter, bidan, dan pegawai administrasi, juga dapat menjerat pasien. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus menyebutkan, ada UU Kesehatan yang dilanggar oleh para pasien klinik ilegal itu.

“Kalau ada (pasiennya), mereka juga bisa dihukum, kan dalam UU Kesehatan ada,” kata Yusri di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (18/2/2020).

Polisi sebelumnya telah menetapkan tiga tersangka saat pengungkapan kasus klinik aborsi di Paseban, Jakarta Pusat. Bagi pasien atau pengguna jasa klinik yang melakukan aborsi juga akan dikenakan sanksi pidana seperti termaktub dalam Pasal 194 UU Kesehatan.

Pasal 194 itu berbunyi: “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat 2 dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar.”

Kendati demikian, Yusri mengaku sulit bagi polisi untuk mencari satu dari 903 pasien yang pernah menggugurkan janin atau bayi mereka di klinik ilegal itu. Sebab, tempat aborsi itu tidak menyimpan data atau rekam medik yang lengkap mengenai pasiennya. Hal ini juga menjadi alasan yang membuat klinik tersebut menjadi tempat favorit untuk menggugurkan kandungan secara ilegal.

“Siapa saja yang ilegal ini, yang rata-rata memang hamil di luar nikah, kemudian juga dia mau kerja persyaratannya harus tidak boleh hamil, tapi saat itu dia hamil. Ada juga yang memang dia sudah minum KB, tapi dia kecolongan. Niatan mereka sudah mau menggugurkan kandungan secara ilegal,” kata Yusri.

Polisi menangkap tiga tersangka yakni A yang bertindak sebagai dokter, RM, yang merupakan seorang bidan dan SI karyawan di klinik tersebut, Selasa (11/2/2020) lalu. Polisi juga tengah membnuru 50 bidan lain yang ikut mempromosikan klinik aborsi itu. Tak hanya itu, sejumlah klinik aborsi ilegal selain klinik yang digerebek di Paseban beberapa waktu lalu, juga tengah ditelusuri.

Atas perbuatan mereka, para tersangka dijerat Pasal 83 jo Pasal 64 UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan dan/atau Pasal 75 ayat 1, Pasal 76, Pasal 77, Pasal 78 UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan/atau Pasal 194 jo Pasal 75 ayat 2 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan jo Pasal 55 dan 56 KUHP.


Editor : Ahmad Islamy Jamil