7 Fakta Gempa Tektonik M 6,9 di Banten, Pakar Sebut Ada Potensi Megathrust

Ilma De Sabrini ยท Sabtu, 03 Agustus 2019 - 07:34 WIB
7 Fakta Gempa Tektonik M 6,9 di Banten, Pakar Sebut Ada Potensi Megathrust

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,9 mengguncang Banten pada Jumat (2/8/2019) malam. (Foto: BMKG).

JAKARTA, iNews.id - Gempa berkekuatan magnitudo 6,9 mengguncang Banten pada Jumat (2/8/2019) malam. Getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah mulai DKI Jakarta, Lampung, hingga Bali dan berpotensi tsunami.

Pantauan hingga Sabtu (3/8/2019) pagi ini, sebagian warga di berbagai daerah masih berada di pengungsian. Mereka khawatir terjadi gempa susulan. Kendati demikian, sebagian besar lainnya berangsur pulang.

Ini seperti terjadi di Bandarlampung, Lampung. Ribuan warga yang sebelumnya berkumpul di depan kantor gubernur Lampung mulai kembali ke rumah. Warga berani pulang setelah BPPBD menyerukan peringatan dini tsunami telah diakhiri.

”Kami pulang setelah ada kepastian tidak ada tsunami. Semoga memang tidak terjadi gempa susulan juga,” kata Nurlela, warga setempat, dilaporkan iNews, Sabtu (3/8/2019).

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, gempa yang terjadi sekarang ini kemungkinan belum mencapai puncaknya.

Pada sebuah kawasan subduksi aktif tetapi tidak pernah terjadi gempa, dapat diduga kawasan itu sedang terjadi proses akumulasi medan tegangan, di mana ada proses penumpukan energi yang terkandung dalam kulit bumi.

Berikut 7 fakta gempa bumi Banten:

1. Dimutakhirkan Jadi M 6,9.
BMKG memutakhirkan data gempa bumi di Banten yang terjadi Jumat (2/8/2019) pukul 19.03 WIB. Dari sebelumnya dinyatakan berkekuatan magnitudo 7,4 menjadi magnitudo 6,9. Pusat gempa berada pada koordinat 7,32 LS dan 104,75 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 164 km arah barat daya Kota Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, pada kedalaman 48 km. Gempa berpotensi tsunami.

2. Getaran dirasakan hingga Bali.

Warga melihat kerusakan di GOR Pasir Ona, Rangkasbitung, Banten, Jumat (2/8/2019) malam akibat gempa. (Foto: Antara).

Tidak hanya di Jakarta, getaran gempa dirasakan hingga Buleleng, Bali. Data BMKG menunjukkan gempa dirasakan di Lebak dan Pandeglang dengan intensitas IV-V MMI, Jakarta III-IV MMI, Bandung, Serang, Bekasi, Tangerang, Bandar Lampung, Purwakarta, Bantul, Kebumen, II-III MMI, Nganjuk, Malang, Kuta, dan Denpasar (Bali) II MMI serta Mataram dan Lombok Barat II MMI.

3. Dipicu deformasi batuan lempeng Indo-Australia.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa Banten merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya deformasi batuan dalam Lempeng Indo-Australia.

4. Potensi tsunami diakhiri, bukan dicabut.
Setelah gempa mengguncang pada pukul 19.03 WIB yang diikuti peringatan dini tsunami, BMKG memperkirakan waktu tiba gelombang laut pada pukul 19.35 WIB. Kendati demikian, BMKG menegaskan tidak akan mengakhiri peringatan dini tsunami hingga pukul 21.35 WIB atau dua jam setelah perkiraan tsunami tiba.

Pada pukul 21.41 WIB, peringatan dini tsunami resmi diakhiri. ”Peringatan dini tsunami diakhiri, bukan dicabut,” kata Dwikorita.

5. Puluhan rumah rusak.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendata sejumlah kerusakan akibat gempa Banten. Hingga Sabtu dini hari tercatat sedikitnya 7 rumah rusak berat, 3 rusak sedang dan 5 rusak ringan. BPBD Sukabumi menyatakan, pada Sabtu pagi ini sedikitnya 26 rumah rusak.

6. Potensi Megathrust.
Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto mengatakan, gempa dengan magnitudo 9,0 (megathrust) yang terjadi sekitar 400 tahun lalu di selatan Jawa berpotensi berulang. Namun, belum diketahui pasti waktunya kapan akan terjadi.

“Gempa raksasa itu skalanya sembilan atau lebih besar. Dan itu pernah terjadi di selatan Jawa. Sudah dapat dipastikan akan terjadi lagi meski tidak tahu waktunya kapan,” kata Eko merespons gempa Banten.

7. Warga bertahan di pengungsian.
Kendati peringatan dini tsunami telah diakhiri, sejumlah warga di beberapa daerah masih bertahan di pengungsian hingga Sabtu pagi ini. Mereka khawatir terjadi gempa susulan. Ini seperti terjadi di Ujunggenteng dan Pangumbahan, di sekitar Pantai Ujunggenteng, Kabupaten Sukabumi.

Pantauan iNews, sebagian warga masih berada di aula desa. Mereka bertahan setelah terjadi gempa magnitudo 4,4 di Sukabumi Sabtu dini hari. Gempa ini merupakan susulan dari gempa Banten pada Jumat malam.

Editor : Zen Teguh