7 Fakta Sindikat Jual Beli Satwa Langka, Tawarkan Kanguru hingga Beruang Madu

Irfan Ma'ruf ยท Kamis, 04 Juli 2019 - 04:00 WIB
7 Fakta Sindikat Jual Beli Satwa Langka, Tawarkan Kanguru hingga Beruang Madu

Tiga tersangka sindikat perdagangan satwa langka dan dilindungi di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (4/3/2019). (Foto: iNews.id/Irfan Ma'ruf).

JAKARTA, iNews.id, - Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri membongkar sindikat jual beli satwa dilindungi. Tiga orang diringkus dari sejumlah daerah di Jawa Tengah dan seorang lainya buron.

Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran menuturkan, tiga tersangka yang ditangkap berasal dari Jepara, Kudus dan Pati yang tergabung dalam satu sindikat. Modus pelaku yakni mendapatkan satwa langka dari wilayah timur Indonesia menggunakan kapal nelayan.

“Tersangka membeli satwa-satwa dilindungi kemudian diperjualbelikan lagi kepada penadah lain atau pembeli,” kata Fadil dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (3/7/2019).

Dia menuturkan, sindikat penjual menawarkan satwa-satwa dilindungi itu melalui media sosial. Setelah ada pembeli dan tercapai kesepakatan, dilakukan transaksi. Pembeli tidak bertemu penjual saat terjadi penyerahan barang.

”Satwa dilindungi yang diperdagangkan itu diantar dengan ojek online atau jasa ekspedisi. Ini sudah mirip transaksi narkoba,” ujarnya.

Para pelaku dijerat dengan Pasal 21 ayat (2) huruf a juncto Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Ancaman hukuman lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp100 juta.

Berikut fakta-fakta sindikat jual beli satwa dilindungi:

1. Berawal dari Penjualan Beruang Madu.
Pengungkapan kasus bermula pada Jumat (14/6/2019). Polisi mendapatkan informasi akan ada jual beli satu ekor beruang madu di Terminal Rembang, Jawa Tengah. Penyidik Ditipidter Bareskrim Polri pun menuju ke lokasi.

Pada pukul 17.30 WIB terlihat seseorang menunggu bus dari Jepara. Dia diduga sebagai pembeli. Pria berinisial S tersebut berhasil kabur saat hendak ditangkap. Polisi berhasil mengamankan ponselnya yang terjatuh dan menyita beruang madu.

2. Sindikat Jawa Tengah.
Dari hasil identifikasi ponsel S, polisi mendapati nama MUA alias G sebagai pemilik beruang madu. Dia ditangkap di Kaliwungu, Kudus. Dari hasil pengembangan penyidikan, selanjutnya polisi menangkap KG di Kecamatan Mayong, Jepara dan AS di SPBU Bumi Rejo, Kabupaten Pati. Mereka tergabung dalam satu jaringan penjual satwa dilindungi.

3. Membeli dari Papua.
Sindikat Jawa Tengah ini mendapatkan satwa-satwa langka itu dari Papua. Satwa itu dikirim dengan menggunakan perahu nelayan dan bersandar di Pelabuhan Juwana, Pati. Satwa itu lantas di bawa ke rumah atau kandang untuk dijual kembali.

Namun ada juga yang mengembangbiakkan sendiri. Seperti tersangka KG yang memelihara kanguru tanah. Namun indukan satwa ini juga diperoleh dari Papua.

4. Ditawarkan lewat Media Sosial.
Satwa langka ditawarkan sindikat penjual ini melalui berbagai cara. Salah satunya melalui media sosial Facebook.

5. Rekening Bersama.
Sindikat ini menggunakan modus baru dengan menunjuk satu orang untuk membuka rekening bersama (rekber). Rekening ini digunakan untuk bertransaksi. Dengan demikian, antara pembeli dan penjual tidak mesti bertemu. Secara keseluruhan dalam rantai jual beli satwa dilindungi ini ada empat pihak yaitu, penjual, broker, pembeli, dan pemilik rekening bersama.

6. Diangkut Ojek Online dan Bus.
Dalam kasus perdagangan satwa langka ini, pembeli dan penjual tidak bertemu. Jika pembeli telah sepakat dan mentransfer uang di rekening bersama, satwa akan dikirimkan melalui ojek online. Selain itu pengiriman juga menggunakan bus ekspedisi.

7. Dari Burung Tiong Mas hingga Kanguru.
Sebanyak 26 satwa dilindungi berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal yang melibatkan sindikat Jawa Tengah ini. Satwa itu yakni 1 beruang madu, 5 kanguru, 2 burung kakaktua jambul kuning, 15 ekor burung tiong mas (beo), 2 nuri kepala hitam, dan 1 nuri kelam.

Editor : Zen Teguh