9 Contoh Cerita Fiksi Berbagai Tema Menarik, Lengkap dengan Ciri dan Unsurnya
Raja Parakeet
Di sebuah hutan lebat di kawasan Aceh, hiduplah seekor burung parkit yang merupakan raja bagi burung burung lain penghuni hutan itu. Raja burung itu bergelar Raja Parakeet. Raja Parakeet merupakan raja yang bijaksana dan sangat dicintai rakyatnya. Mereka hidup damai dan tenteram.
Pada suatu ketika, ketenangan di dalam hutan terganggu oleh kedatangan Pemburu. Singkat cerita, Pemburu tersebut berhasil menaruh perekat di sekitar tempat burung tersebut hingga akhirnya para burung terjebak oleh perekat tersebut.
Mereka berusaha melepaskan sayap dan badan dari perekat tersebut. Namun, upaya tersebut gagal. Hampir semuanya panik, kecuali sang raja. Ia berkata,
"Kalian tenanglah. Nanti saat si Pemburu datang, kalian harus berpura-pura mati. Si Pemburu menginginkan menangkap kita hidup-hidup. Jika si Pemburu melihat kita mati, ia tidak akan senang dan akan melepaskan kita. Nah, pada hitungan sepuluh setelah burung terakhir dilepaskan, saat itulah kita terbang bersama-sama sekencang-kencangnya!"
Tak lama, si Pemburu datang. Burung-burung pun segera berpura pura mati sehingga Pemburu pun merasa kecewa. Akhirnya, Pemburu melepaskan hampir semua burung tangkapannya. Sayang, saat giliran Raja Parakeet dilepaskan, si Pemburu jatuh terpeleset.
Suara jatuh si Pemburu membuat para burung lain kaget dan terbang. Pemburu sangat kesal karena merasa telah tertipu, lalu la memegang erat Raja Parakeet. Raja Parakeet meminta pada pemburu itu untuk tidak dibunuh. Sebagai imbalannya ia akan selalu menghibur si Pemburu. Hampir setiap hari ia bernyanyi untuk Pemburu. Suaranya sangat indah dan merdu.
Keindahan suara Raja Parakeet terdengar sampai kerajaan. Sang Raja pun tertarik ingin memiliki Raja Parakeet. Raja mengutus pengawalnya pergi ke rumah si Pemburu untuk membeli Raja Parakeet dengan harga yang sangat mahal. Tawaran menggiurkan itu langsung diterima oleh Pemburu.
Raja Parakeet pun kemudian dibawa ke kerajaan. Ia diberi makanan dan minuman yang enak, serta tinggal di sangkar yang terbuat dari emas. Namun, tak satu pun kebaikan Raja itu yang membuatnya bahagia. Raja Parakeet sangat ingin kembali ke hutan, hidup bersama rakyat dan keluarga yang dicintainya.
"Aku rindu sekali keluarga dan rakyatku".
Suatu hari, Raja Parakeet terlihat sangat sedih karena kerinduannya yang tak tertahankan. Ia pun mencari akal agar bisa kembali ke hutan. Keesokan harinya, Raja Parakeet menemukan cara dengan berpura-pura mati.
Sang Raja sangat sedih saat melihat burung kesayangannya mati. la memerintahkan penguburannya dengan upacara pemakaman secara besar besaran selayaknya anggota kerajaan yang meninggal dunia. Raja Parakeet pun dikeluarkan dari sangkarnya, diarak di dalam sebuah tandu kebesaran.
Saat tandu sedang berjalan, Raja Parakeet mengintip keadaan di luar. Melihat keadaan aman, Raja Parakeet pun segera menyelinap keluar dan terbang tinggi. Ia terbang menuju hutan kediamannya dan hidup bahagia bersama rakyatnya.
Ayam dan Ikan Tongkol
Dahulu kala di Kepulauan Riau, ikan tongkol dan ayam bersahabat erat. Mereka saling membantu satu sama lain. Sampai suatu hari, Raja Ayam memberitahukan kepada Raja Tongkol bahwa ada keluarga nelayan yang akan menikahkan anaknya dan mengadakan pesta besar-besaran.
"Jangan lupa sahabatku Raja Tongkol, kau harus datang bersama rakyatmu ke pesta besok malam. Kalian pasti akan sangat menikmatinya," ujar Raja Ayam kepada Raja Tongkol.
"Baiklah, aku dan rakyatku akan dengan senang hati melihat pesta itu. Tetapi, aku butuh bantuanmu, Raja Ayam sahabatku," jawab Raja Tongkol.
"Bantuan apa itu? Dengan senang hati aku akan membantumu."
"Kami akan datang nanti malam saat air laut pasang. Namun, Kami pun harus kembali sebelum terbit matahari, sebelum air laut surut. Jadi, kalian jangan lupa berkokok untuk memberi tanda waktu bagi kami," Raja Tongkol menjelaskan permintaannya.
“Tentu saja kami akan melakukannya." Raja Ayam menyanggupi.
Keesokan harinya, pesta itu pun mulai digelar. Bulan purnama bersinar sangat terang. Air laut pun naik. Saat itulah rombongan rakyat tongkol datang. Mereka bersembunyi di karang-karang, tak jauh dari panggung utama.
Semua larut dalam acara yang indah ini diiringi dengan suara rebana yang bertalu-talu. Rakyat tongkol pun sangat menikmati. Malam semakin larut, rakyat tongkol pun enggan beranjak dari pesta. Masalahnya, warga pantai dan para tongkol yang tertidur. Raja Ayam dan rakyatnya pun ikut pulas tertidur.
Celaka! Air laut sudah mulai surut, tapi tidak satu pun ayam yang berkokok! Saat matahari sudah terbit, satu per satu ikan mulai bangun. Betapa kagetnya mereka melihat pantai mulai mengering.
"Oh, tidak! Air laut sudah surut! Kemana ayam jantan yang bertugas berkokok membantu rakyat tongkol?" para tongkol pun mulai panik. Mereka terjebak di karang-karang yang sudah kering. Sebagian tongkol melompat-lompat, berusaha kembali ke pantai yang berair. Namun, hanya sedikit yang berhasil, salah satunya Raja Tongkol.
Ketika hangatnya sinar matahari mulai menusuk kulit, Raja Ayam baru terbangun, diikuti oleh ayam-ayam yang lain. "Ya ampun! Ternyata hari sudah pagi. Bagaimana dengan nasib rakyat tongkol?" pikir Raja Ayam kebingungan dan panik.
Tak lama kemudian, warga yang tinggal di pinggiran pantai pun mulai terbangun. Mereka sangat terkejut, melihat banyak sekali ikan tongkol menggelepar-gelepar di karang-karang sepanjang pantai. Mereka lalu beramai ramai menangkap ikan-ikan itu dan menampungnya di ember untuk dibawa pulang.
Melihat rakyatnya ditangkap oleh orang-orang, Raja Tongkol sangat marah. Ia pun mengucapkan sumpah untuk Raja Ayam dan rakyatnya.
"Persahabatan kita sudah selesai, Raja Ayam! Mulai sekarang, kami rakyat tongkol akan memakan semua rakyat ayam, terutama kalian, ayam jantan! Raja Tongkol berseru. Sejak saat itu, ikan tongkol dan ayam menjadi musuh abadi. Mulai saat itu, para nelayan di sekitar pantai wilayah Riau kerap menggunakan umpan bulu ayam untuk memancing ikan tongkol.