Anjas, Difabel Pembuat Aplikasi Khusus Disabilitas yang Buat Amerika Kagum

Wildan Catra Mulia ยท Rabu, 31 Juli 2019 - 05:58 WIB
Anjas, Difabel Pembuat Aplikasi Khusus Disabilitas yang Buat Amerika Kagum

Anjas Pramono. (Foto: iNews.id/Wildan Catra Mulia)

JAKARTA, iNews.id – Di tengah keterbatasannya, seorang difabel mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, Anjas Pramono, mampu mengukir prestasi yang membanggakan. Dia bahkan banyak meraih penghargaan taraf nasional maupun internasional karena menciptakan lima aplikasi bermanfaat untuk smartphone alias telepon pintar.

Kepada iNews.id, Anjas bercerita, dia memiliki forum diskusi bersama teman-teman kampusnya dalam membuat aplikasi yang fokus pada kepedulian disabilitas. Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer UB itu mengaku saat ini terdapat lima aplikasi yang sudah dibuatnya, dan tiga di antaranya fokus mengenai permasalah disabilitas.

Salah satu aplikasi tersebut diberi nama Difodeaf, yakni sebuah kamus bahasa isyarat bagi penyandang tunarungu. Karya inilah yang membuatnya diganjar medali emas dari University of Malaysia pada 2018.

Anjas bersama teman-temannya yang lain setuju bahwa edukasi sejak kecil terhadap kaum disabilitas maupun pelajaran tentang inklusi masih sangat rendah di Indonesia. Hal itulah yang menjadi alasannya menciptakan sebuah sarana edukasi yang bisa digunakan semua kalangan masyarakat.

“Dengan harapan teman-teman awan segmentasinya berbeda terhadap kaum disabilitas. saya arahkan aplikasi ini sebagai untuk anak-anak. Kenapa untuk anak-anak? Karena menurut saya anak-anak di sini sebagai generasi penerus bangsa dan juga kondisi saat ini Indonesia masih sangat belum sangat terbuka dengan disabilitas,” kata Anjas kepada iNews.id di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (30/7/2019).

Selain Difodeaf, aplikasi lain yang dibuat Anjas bernama Locable. Nama aplikasi kedua ini merupakan singkatan dari “location for difable”. Aplikasi ini dapat digunakan untuk menjawab kendala para difabel dalam mengetahui dan mengakses tempat mana saja yang ramah disabilitas.

“Jadi, maksudnya kita bisa mengetahui lokasi mana saja sih yang sudah accessible. Karena saat ini infrastruktur umum tuh belum accessible bahkan hanya sekian persen dari 100 persen,” ujarnya.

Selanjutnya, karya lain yang juga dibuatnya adalah Jubilitas alias aplikasi jual beli disabilitas. Anjas mengaku membuat aplikasi tersebut karena ingin memberikan ruang kepada difabel untuk berwirausaha. Aplikasi ini dia cetuskan lantaran banyak kaum difabel di Indonesia yang belum atau masih sedikit mendapatkan pekerjaan yang layak seperti manusia umumnya.

Anjas berharap, dengan adanya aplikasi yang sudah dibuatnya itu, dia mampu bekerja sama dengan pemerintah daerah (pemda) maupun pemerintah pusat untuk memastikan bahwa hak-hak warga negara, terutama kaum difabel, dapat terwujud dan berjalan dengan baik.

“Ketika aplikasi ini bekerja sama dengan baik oleh pemerintah, pasti ini akan menjadi acuan lembaga-lembaga instansi yang belum mempedulikan kaum difabel. Dan inklusivitas mungkin banyak tempat-tempat cukup untuk tunanetra atau kursi roda itu masih sangat minim di Indonesia,” katanya.

Tak hanya itu, dia juga berharap aplikasi yang sudah digarapnya ini mampu mengedukasi masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak, bagaimana supaya bisa lebih menghargai orang-orang yang terlahir dalam keadaan kurang beruntung.

“Menjadi media untuk mengedukasi dan menyosialisasikan anak-anak tentang isu-isu disabilitas dan ini dampaknya 10 tahun dan 20 tahun mendatang. Ini akan bisa menurunkan angka bullying atau diskriminasi terhadap temen-temen disabilitas,” ungkapnya.

Diundang ke Gedung Putih Amerika

Prestasi yang ditorehkan Anjas memang amat membanggakan. Dia menjadi satu dari tiga peraih penghargaan YSEALI (Youth Southeast Asia Leadership Initiative) yang diundang menuju Gedung Putih di Washington DC, AS. Kader Nahdlatul Ulama (NU) itu diundang menjadi pembicara di Kantor Presiden AS itu. Di sana, dia akan membahas tentang permasalahan disabilitas dan hak asasi manusia di hadapan para pengamat dan profesor Amerika.

Kini, Anjas bersama teman-teman disabilitas lainya sedang mengkaji hal-hal apa saja yang harus dibawa ke Amerika, sehingga pembahasan bagi kaum disabilitas bisa diungkapkan dalam acara tersebut.

“Apa yang segera kita bantu dan apa yang harus dibenahi oleh pemerintah, kita enggak punya data yang valid (terkait disabilitas). Dan dari teman-teman disabilitas punya itu, seperti apa yang lalu dan seperti apa untuk hal mendatang,” ucap pemuda asal Kudus, Jawa Tengah itu.

Dia pun berharap sepulangnya dari negeri Paman Sam bisa menerapkan hal-hal yang sudah dipelajari dan dikembangkan untuk dipraktikkan di Indonesia.

Editor : Ahmad Islamy Jamil