BNI Catat Laba Operasional Sebelum Pencadangan Rp27,5 Triliun, Tertinggi dalam Sejarah
Dari sisi pendanaan, penguatan layanan perbankan transaksi melalui BNIdirect dan wondr by BNI turut mendorong pertumbuhan CASA sebesar 19,6 persen YoY menjadi Rp733,7 triliun.
Hingga September 2026, giro BNI tumbuh 25,9 persen YoY, melampaui pertumbuhan industri sebesar 9,8 persen berdasarkan data Agustus 2026. Pangsa pasar giro meningkat 120 bps menjadi 13,2 persen, sedangkan pangsa pasar tabungan naik 10 bps menjadi 9,2 persen. Pertumbuhan tabungan BNI tercatat 11,6 persen YoY.
Di tengah tekanan margin industri, net interest margin (NIM) BNI turun 30 bps menjadi 3,5 persen. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi penyesuaian imbal hasil kredit (loan yield) dari 7,3 persen menjadi 6,9 persen.
Sementara itu, biaya dana atau cost of fund (CoF) relatif terkendali, turun dari 2,83 persen menjadi 2,77 persen. Perseroan menyebut pertumbuhan CASA turut mendukung pengendalian biaya pendanaan.
Kualitas aset perseroan terus membaik, yang tercermin dari penurunan rasio loan at risk (LaR) dari 10,4 persen menjadi 7,8 persen dan NPL gross dari 2 persen menjadi 1,9 persen.
BNI juga menjaga rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8 persen, lebih tinggi dibandingkan industri yang sebesar 3,5 persen. Adapun rasio pencadangan terhadap NPL atau NPL coverage ratio tercatat 193,3 persen.
Editor: Aditya Pratama