Cerita Awal Mula Oarfish Dihubung-hubungkan dengan Gempa dan Tsunami

Riezky Maulana ยท Kamis, 12 Desember 2019 - 05:00 WIB
Cerita Awal Mula Oarfish Dihubung-hubungkan dengan Gempa dan Tsunami

Peneliti menunjukkan ikan oar atau oarfish yang kerap disebut sebagai ikan perak di perairan Jepang. (Foto: ilustrasi/usatoday).

JAKARTA, iNews.id – Kemunculan oarfish di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan membuat heboh. Ikan laut dalam hasil tangkapan nelayan ini viral di media sosial karena langsung dikait-kaitkan dengan akan datangnya gempa bumi besar dan tsunami.

Benarkah demikian?

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengklarifikasi kehebohan tersebut. Oarfish merupakan jenis ikan di perairan laut dalam sehingga jarang muncul di permukaan. Nah saat muncul, bukan berarti bakal terjadi gempa atau tsunami.

"Hasil kajian statistik terbaru mengungkap bahwa jenis ikan laut dalam seperti oarfish yang muncul di perairan dangkal tidak berarti gempa akan segera terjadi," ujar Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Senin (9/12/2019) lalu.

Penjelasan BMKG merujuk hasil sejumlah penelitian ilmuwan. Dalam artikel yang ditulis di laman Forbes, hasil studi terbaru para peneliti Jepang menunjukkan kemunculan oarfish tidak berkorelasi dengan gempa.

Cerita tentang oarfish dan gempa berasal dari dongeng masyarakat Jepang. Menurut hikayat, ketika ikan perak seperti ular itu mucul dari kedalaman, sebuah gempa bumi besar akan segera terjadi.

Tetapi para peneliti Jepang yang meneliti laporan surat kabar, catatan akuarium, dan makalah akademis yang berasal dari 1928 tidak dapat menemukan korelasi antara penampakan ikan oar dan gempa bumi besar itu.

"Seseorang hampir tidak dapat mengonfirmasi hubungan antara dua fenomena itu (kemunculan oarfish dan gempa)," kata seismolog Yoshiaki Orihara dan rekan-rekannya dalam sebuah makalah yang diterbitkan di Bulletin of the Seismological Society of America (BSSA), dikutip Kamis (12/12/2019).

Laporan Forbes menyatakan, Oarfish menarik perhatian setelah gempa bumi Tohoku Maret 2011. Gempa disusul tsunami itu menewaskan lebih dari 19.000 orang dan menyebabkan kehancuran pada tiga reaktor nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Diaiichi. Pengamat pun menghubungkan gempa ini dengan selusin oarfish yang terdampar di pantai Jepang pada akhir 2009 dan 2020.

Gempa bumi Tohoku, Jepang, pada 2011. (Foto: ist).

Disebut Ryugu no Tsukai atau Utusan dari Istana Dewa Laut, oarfish, terutama spesies yang lebih kecil atau ramping-konon mengunjungi pantai Jepang untuk memperingatkan akan terjadinya gempa bumi dan tsunami.

"Seandainya cerita rakyat ini terbukti benar, penampilan ikan laut dalam ini bisa menjadi informasi yang berguna untuk mitigasi bencana," tulis Orihara dan rekan-rekannya.

Tetapi, beberapa ilmuwan telah mencoba menjelaskan legenda itu dengan menyebut pergerakan lempeng tektonik dapat menghasilkan arus elektromagnetik yang mendorong oarfish dan ikan laut dalam lainnya seperti dealfish, ribbonfish, dan unicorn creshfish, ke perairan dangkal.

Oarfish pertama kali dideskripsikan pada 1772. Pertemuan langka dengan penyelam dan tangkapan tidak disengaja telah memberikan sedikit yang diketahui tentang etologi (perilaku) dan ekologi ikan ini.

Gambar sketsa oarfish raksasa. (Foto: Forbes).

Oarfish sering berada pada kedalaman signifikan hingga 1.000 meter. Para ilmuwan percaya mereka bermigrasi ke Laut Jepang di Arus Tsushima. Beberapa tim peneliti telah merekam video ikan oar hidup dalam beberapa tahun terakhir.

Anggota terbesar dari spesies oarfish, yang secara tepat dinamai oarfish raksasa, dapat tumbuh hingga 11 meter. Ini mengapa mereka sering diidentifikasi sebagai ular laut (padahal berbeda).

Secara keseluruhan, Orihara dan rekan-rekannya menemukan 336 penampakan ikan laut dalam di Jepang antara November 1928 dan Maret 2011. Tetapi tidak satu pun dari penampakan itu terjadi dalam 30 hari setelah gempa bumi berkekuatan 7,0 atau lebih besar. Orihara juga tidak dapat menemukan laporan tentang gempa berkekuatan 6,0 atau lebih besar yang terjadi dalam waktu 10 hari dari pengamatan ikan laut dalam.

Editor : Zen Teguh