Sambut Tahun Baru

IJTI Serukan Wajah Jurnalis Profesional dan Berintegritas

Syukron Fadillah ยท Minggu, 31 Desember 2017 - 13:53:00 WIB
IJTI Serukan Wajah Jurnalis Profesional dan Berintegritas
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Yadi Hendriana. (Foto: Dok.IJTI)

JAKARTA, iNews.id - Wajah pers Tanah Air sepanjang 2017 tercoreng oleh perilaku oknum jurnalis yang lalai terhadap profesionalisme pekerjaan. Kebebasan pers yang didengungkan justru mengkhawatirkan karena kode etik dan profesionalisme tidak lagi menjadi rujukan.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Yadi Hendriana mengatakan, tahun 2018 wajah jurnalis televisi harus lebih profesional dan berintegritas. Menurutnya, menjadi persoalan bersama ketika Dewan Pers dihujani permasalahan pers sebanyak 600 aduan sepanjang 2017.

"Wajah pers di tahun 2017 banyak tercoreng oleh perilaku tidak profesional para jurnalis dalam menjalankan tugas. Ini menjadi salah satu persoalan yang harus dipecahkan bersama," ucap Yadi melalui keterangan resmi tertulis, Minggu (31/12/2017).

Menurutnya, tugas jurnalis di tahun 2018 juga tidak mudah. Gong pertarungan politik dimulai pada tahun tersebut dan profesi jurnalis memainkan peran yang tidak bisa diremehkan. Dia menilai, jurnalis harus menunjukkan independensinya sekaligus mengawal demokrasi yang transparan dan berkualitas.

Belajar dari tahun tahun politik sebelumnya, hegemoni kepentingan politik membuat para jurnalis bimbang dan linglung. Ironisnya, tidak sedikit jurnalis terseret dalam arus keberpihakan dan kepentingan politik.

"Ini menjadi catatan sekaligus evaluasi mendalam bagi para jurnalis dalam menjalankan tugas. Jurnalis dan media memiliki peran penting dalam mengawal proses demokrasi yang tengah berlangsung," katanya.

Yadi juga menyinggung soal proyeksi tahun 2018 terkait regulasi penyiaran khususnya televisi. Bersamaan dengan 20 tahun perayaan reformasi, tahun 2018 harusnya menjadi momen penyelesaian carut marut regulasi penyiaran televisi yang berlaku. IJTI mendorong agar semua pihak duduk bersama untuk menemukan kata sepakat.

"Regulasi penyiaran harus bisa mengakomodir kepentingan semua pihak. Terutama kepentingan masyarakat umum," ungkapnya.

Dia berharap, tahun 2018 tidak ada lagi jurnalis yang mengalami kekerasan saat bertugas. Catatan yang dimiliki IJTI, kasus kekerasan dan intimidasi kepada para jurnalis masih sering terjadi. Oknum aparat termasuk salah satu pihak yang kerap melakukan kekerasan tersebut.

"Ada sejumlah faktor yang membuat kekerasan terhadap jurnalis kerap terulang, seperti lemahnya penegakan hukum pelaku kekerasan serta minimnya pemahaman akan tugas jurnalistik yang dilindungi oleh undang-undang," katanya.

Di tahun 2018, IJTI meminta penegakan hukum berjalan sungguh-sungguh demi meminimalkan kekerasan terhadap jurnalis. Sayangnya, kekerasan bukanlah satu-satunya ancaman yang harus dihadapi. Bentk kriminalisasi dan pasal karet seringkali digunakan untuk menjerat para jurnalis.

Di tahun politik, pemberitaan yang muncul kemungkinan dihiasi berita-berita politik serta kooptasi kepentingan. Bukan tak mungkin, kekerasan bakal menimpa jurnalis ketika ada pemberitaan yang merugikan salah satu pihak.

"IJTI mengajak kepada seluruh jurnalis di tanah air untuk mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bekerja dengan profesional. Tampilkan wajah jurnalis yang profesional, berintegritas dan memegang teguh etika," ungkapnya.

IJTI menyerukan tujuh poin yang menjadi perhatian di tahun 2018. Pertama, dalam menjalankan tugasnya jurnalis televisi harus profesional, berpegang teguh pada Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) serta aturan yang berlaku. Kedua, jurnalis televisi adalah sosok yang menjaga martabat, berintegritas serta santun dalam bermasyarakat.

Ketiga, jurnalis televisi tidak boleh partisan, pemberitaanya mengutamakan kepentingan orang banyak di atas kepentingan yang lain. Keempat, jurnalis televis harus menjadi pencerah ditengah maraknya berika bohong yang beredar di media sosial dengan menyajikan berita yang benar, berimbang, independen dan berdampak positif bagi orang banyak

Kelima, jurnalis televisi harus secara terus menerus meningkatkan kapasitas dan kompetensi sesuai perkembangan zaman. Keenam, meminta pada industri pers agar menjamin dan meningkatkan kesejahteraan para jurnalisnya. Ketujuh, meminta kepada pihak terkait menyelesaikan regulasi kepenyiaran dengan mengutamakan kepentingan masyarakat banyak.

Editor : Achmad Syukron Fadillah