Jaksa: Imam Nahrawi Rotasi Bawahan Jika Tak Setor Uang, Contohnya Alfitra Salamm

Antara ยท Jumat, 14 Februari 2020 - 00:39 WIB
Jaksa: Imam Nahrawi Rotasi Bawahan Jika Tak Setor Uang, Contohnya Alfitra Salamm

Sesmenpora Gatot S Dewa Broto saat menjadi saksi dengan terdakwa asisten pribadi mantan Menpora Imam Nahrawi, Miftahul Ulum di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (14/2/2020). (Foto: Antara)

JAKARTA, iNews.id - Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi disebut merotasi pegawai Kemenpora jika tak menyetorkan sejumlah uang. Fakta itu terungkap saat Sesmenpora Gatot S Dewa Broto menjadi saksi dengan terdakwa asisten pribadi mantan Menpora Imam Nahrawi, Miftahul Ulum.

Saat itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Ronald Worotikan mengonfirmasi pernyataan Gatot seperti tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) 19. Dalam BAP itu disebutkan, jika permintaan itu tidak diikuti, baik langsung maupun tidak langsung melalui staf, Imam Nahrawi memberhentikan atau memutasi pegawai Kemenpora.

"Contohnya Alfitra Salamm diberhentikan sebagai Sesmenpora karena menolak memberikan Rp5 miliar ke Imam Nahrawi. Imam Nahrawi juga mengirim surat ke Presiden untuk pemberhentian Alfitra namun sebelum ada surat dari Presiden, Alfitra sudah lebih dulu mengundurkan diri', apa ini benar?" tanya Ronald, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (14/2/2020).

Dalam BAP, Gatot mengatakan, Alfitra secara pribadi belum pernah menyampaikan pengunduran diri. Namun, dia mengaku kaget karena begitu mudah Alfitra mengundurkan diri.

"Alfitra tidak pernah menyampaikan ke saya tapi kok semudah itu Alfitra Salamm mengundurkan diri, ternyata sebelumnya sudah ada permohonan surat ke Presiden untuk dilakuan pemberhentian," kata Gatot dalam BAP.

Alfitra berhenti sebagai Sesmenpora pada Juni 2016. Selain Alfitra, pegawai Kemenpora lain yang mengalami mutasi karena menolak memberikan uang dialami Kasubag Urusan Dalam Kemenpora Muhammad Angga.

"Ada saudara Angga, ya mungkin Angga kurang kooperatif dengan Pak Ulum karena keluhan dari saudara Angga, Angga dianggap tidak kooperatif memenuhi apa yang diminta oleh Pak Ulum," ujar Gatot.

Gatot mengungkapkan, diperintahkan Imam Nahrawi membuat Surat Keputusan (SK) untuk Atun agar menggantikan Angga. Gatot kemudian mengonfirmasi hal itu kepada Imam Nahrawi, yang sebelumnya telah mendapat informasi dari Miftahul Ulum.

"Saya memperoleh informasi dari Pak Ulum, kemudian saya konfirmasi Pak Imam Nahrawi apakah betul bapak mengusulkan Ibu Atun naik sebagai Kasubag Urusan Dalam karena saya sampaikan kepada Pak Imam bahwa yang bersangkutan (Atun) tidak punya kompetensi, tapi jawaban dari Pak Menteri, 'mohon untuk segera di SK-kan' begitu," tuturnya.

JPU juga mengonfirmasi soal permintaan Miftahul Ulum kepada Muhammad Angga agar secara rutin menyiapkan sejumlah uang untuk diberikan kepada Imam Nahrawi pada sekitar 2018. Muhammad Angga kemudian menyampaikan mengenai permintaan Miftahul Ulum tersebut kepada Gatot.

Merasa tidak yakin itu permintaan Miftahul Ulum, Gatot kemudian mengonfirmasi langsung kepada Imam Nahrawi. "Jawaban Nahrawi saat itu adalah yang bersangkutan atau Imam Nahrawi membenarkan bahwa permintaan saudara Miftahul Ulum kepada Angga atas perintah dan sepengetahuan Imam Nahrawi', betul ya?" tanya jaksa Ronald.

"Ya betul," jawab Gatot.

KPK Mendakwa Miftahul Ulum bersama Imam Nahrawi menerima suap dengan total Rp11,5 miliar dan gratifikasi berupa uang berjumlah Rp8,648 miliar.

Editor : Djibril Muhammad