Kemenkes: Per 1 Februari 2019, Ada 15.132 Kasus DBD di Indonesia

Antara ยท Jumat, 01 Februari 2019 - 16:45 WIB
Kemenkes: Per 1 Februari 2019, Ada 15.132 Kasus DBD di Indonesia

Nyamuk Aedes aegypti, vektor (pembawa) wabah demam berdarah dengue (ilustrasi). (Foto: Okezone)

JAKARTA, iNews.id – Kejadian penyakit demam berdarah dengue (DBD) per 1 Februari 2019 tercatat 15.132 kasus dengan angka kematian mencapai 145 jiwa di seluruh Indonesia. Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, provinsi dengan kasus DBD dan kematian akibat DBD paling tinggi saat ini adalah Provinsi Jawa Timur dengan 3.074 kasus dan 52 kematian.

Selanjutnya, posisi kedua ditempati Jawa Barat dengan 2.204 kasus dan 14 meninggal dunia, lalu; disusul Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan 1.092 kasus dan 13 meninggal dunia, serta; Sumatera Utara dengan 1.071 kasus dan 13 meninggal dunia.

Nadia mengatakan, kejadian penyakit DBD saat ini masih dalam tahap bisa dikendalikan. Alasannya, ada beberapa wilayah yang sudah mulai mengalami penurunan kasus penyakit mematikan tersebut.

“Data sekarang Kapuas (Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah) sudah mencabut (status KLB). Manggarai Barat (NTT) kasusnya mulai turun walau ada satu dua. Kami harus spesifik (melihat kondisi) masing-masing daerah, yang kami lihat masih naik di Jawa Timur,” kata dia di Jakarta, Jumat (1/2/2019).


Sebagai perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya, Kemenkes mencatat terjadi 53.075 kasus DBD pada 2018, 68.407 kasus pada 2017, dan 204.171 kasus pada 2016. Nadia menuturkan, kesakitan DBD paling banyak terjadi pada anak-anak di rentang usia 9-14 tahun. Menurut dia, kasus penyakit DBD tahun ini bisa saja menurun setelah musim hujan berakhir, asalkan populasi nyamuk Aedes aegypti selaku pembawa wabahnya juga menurun.

“Prinsipnya, kita mengendalikan nyamuk, ini yang utama,” tuturnya.

Dia mengklaim, Kemenkes telah melakukan intervensi sejak awal musim hujan di akhir 2018, sehingga populasi nyamuk saat curah hujan mulai tinggi pada Januari dan Februari dapat ditekan.

Editor : Ahmad Islamy Jamil