Kenapa Politik Itu Kejam? Antara Demokrasi, Etika dan Perebutan Kekuasaan
“Dalam politik, kebohongan bukan hanya alat, tetapi juga strategi yang dibenarkan demi mempertahankan kekuasaan dan stabilitas.”
Menurut Arendt, politik bukanlah dunia yang ideal, melainkan arena di mana kebenaran sering kali dikorbankan demi kepentingan kekuasaan. Hal ini menjelaskan mengapa politik sering dipandang sebagai sesuatu yang kejam dan penuh tipu daya.
Dalam kajian politik Islam, sebagaimana diuraikan dalam jurnal Universitas Malikussaleh, politik (siyasah) memiliki dua wajah Politik bisa menjadi sumber kezaliman dan ketidakadilan jika tidak dibatasi oleh aturan moral dan hukum. Namun, siyasah juga bertujuan untuk menjaga keadilan dan mencegah kejahatan. Oleh karena itu, kekuasaan yang kokoh dan berlandaskan moral sangat penting agar politik tidak berubah menjadi kejam dan sewenang-wenang.
Salah satu aspek yang membuat politik dianggap kejam adalah maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Ketika para pemimpin politik menggunakan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri atau kelompoknya, masyarakat menjadi korban ketidakadilan dan kemiskinan. Praktik-praktik ini memperburuk citra politik dan menimbulkan rasa kecewa serta ketidakpercayaan publik.
Dalam proses demokrasi, kampanye politik sering kali menjadi ajang serangan pribadi dan fitnah. Kampanye negatif yang berbasis data memang sah secara hukum, tetapi kampanye hitam yang menuduh tanpa bukti justru memperkeruh suasana politik. Hal ini menambah kesan kejamnya dunia politik karena mengedepankan konflik dan permusuhan daripada dialog dan solusi.