Kepala BMKG Sebut Pengurangan Risiko Bencana Belum Maksimal, Ini Sebabnya
Fakta yang tidak bisa dibantah, kata Dwikorita, Indonesia berada dalam kepungan lempeng-lempeng tektonik aktif dan dikelilingi oleh cincin api. Kondisi cuaca dan iklim di Indonesia sebagai benua maritim juga sangat kompleks dan dinamis, dipengaruhi oleh Benua Asia dan Australia serta oleh Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
Berdasarkan data, jumlah kejadian bencana geo-hidrometeorologi meningkat signifikan setiap tahunnya. Dwikorita mencontohkan, gempa bumi pada kurun waktu 2008-2016 rata-rata 5.000-6.000 kali dalam setahun. Pada 2017, jumlahnya meningkat menjadi 7.169 kali dan pada 2019 naik signifikan menjadi lebih dari 11.500 kali. Sementara itu kejadian cuaca ekstrem dan anomali iklim juga makin meningkat frekuensi, intensitas, dan durasinya.
“Indonesia adalah negara yang sangat rawan gempa dan tsunami akibat banyaknya sumber gempa, dimana zona sumber gempa megathrust ada sebanyak 13 segmen, dan zona sumber gempa sesar aktif ada sebanyak 295,” paparnya.
“BMKG tentu saja tidak bisa bekerja sendiri. Butuh kerja sama dan gotong royong dengan semua elemen masyarakat, termasuk parpol yang notabene merupakan salah satu instrumen demokrasi penting bagi negara ini. Parpol memiliki pengurus dari tingkat pusat hingga tingkat desa, tentu juga akan sangat efektif untuk membantu dalam menyebarluaskan informasi kebencanaan kepada masyarakat,” tambah dia.
Dwikorita menyebut, apa yang dilakukan PDI Perjuangan dengan membentuk Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) sejak 2005 silam sebagai sebuah langkah kongkrit dan strategis dalam upaya turut serta memitigasi risiko bencana di seluruh wilayah Indonesia.