Kisah Prabowo Memburu Pentolan Fretilin Nicolau Lobato, Jejak Terendus dari Teropong US Navy
Ketika akhirnya berhasil mendarat, Sahala mengecek teropong itu. “Prabowo, ini kelompok Lobato. Teropong pandang ini dipegang selalu oleh pengawalnya, Sebastiano Sarmento, komandan Brigade Schoke,” ucap Sahala.
Dia pun memerintahkan Prabowo dan pasukannya untuk terus mengejar gerombolan itu. Sebelum pergi, tim itu meninggalkan satu kotak kaleng makanan T2 dan peta-peta baru.
“Kamu kejar terus, jangan lepas. Lobato berada di depan kamu. Mungkin 3-4 jam di depanmu,” katanya.
Atmadji Sumarkidjo dalam buku Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit menyebutkan, pada 30 Desember 1978 dini hari, Mayor Yunus Yosfiah memerintahkan pasukan Prabowo melakukan pengepungan dan penyergapan terhadap persembunyian Lobato.
Dalam waktu singkat terjadi dua pertempuran antara komponen Nanggala 28 dengan pengawal Lobato. Saat itu Lobato lolos dari penyergapan. Namun, gerak mereka telah diadang pasukan lain. Lobato akhirnya tewas tertembak.
Tertembak matinya Lobato menjadikan moral Fretilin merosot. Pangdam Udayana Brigjen Dading Kalbuadi selaku pemimpin seluruh operasi di Timor Timur memerintahkan agar terus melakukan pengejaran terhadap sisa-sisa pasukan Lobato.
“Tanggal 2 Januari 1979, Menhankam/Pangab melapor kepada Presiden (Soeharto) di Jalan Cendana. Selain memberikan laporan lengkap mengenai tertembaknya Lobato, juga diperlihatkan senapan serbu jenis AR-15 yang selama ini dibawanya,” kata Atmadji.
Editor: Ahmad Islamy Jamil