KPI Laporkan Kematian Sutrimo Orang Dekat Eks Jampidsus Febrie ke Bareskrim
"Jadi mulai meninggalnya dibawa ke RS Muhammadiyah, terus setelah meninggal sudah dimandikan, sudah dikafani, sudah beres kan pihak RS bilang ini mau diautopsi, tapi ada yang bilang enggak usah diautopsi, saya enggak perlu sebutkan namanya, jenazah lalu dibawa ke kampung. Nah pihak keluarga enggak ada yang speak up sampai sekarang karena ada ketakutan dan kecemasan gitu, ini kan jadi tanda tanya besar buat kita karena penuh kejanggalan," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Posbakum Petisi Ahli, Prihatin Kusdini mengatakan pihaknya ikut mendampingi KPI karena menilai ada dugaan kejanggalan dalam kematian Sutrimo, termasuk terkait barang bukti di lokasi kejadian.
"Ada sesuatu menggajal di hati saya karena kematiannya ini tidak wajar. Harusnya saat kematian keluar busa dari mulut, orang yang menghadapi saat itu harusnya lapor RT, langsung ke polisi dan diautopsi, tapi ini tidak dilakukan. Bahkan, barang bukti seluruhnya itu sudah tidak ada, hilang, barang bukti yang bisa diajukan di sidang pengadilan," ujarnya.
Dia meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas perkara tersebut agar penyebab kematian Sutrimo dapat terungkap secara jelas.
"Maka itu, saya minta penyidik dari Polri maupun Kejaksaan harus membuka terang benderang (kasus kematian Sutrimo), jangan untuk penguasa tumpul sedangkan untuk maling ayam harus kehilangan nyawa. Saat sekarang ini publik, masyarakat sedang mengawal kasus ini," katanya.
Diketahui, Sutrimo, yang disebut sebagai kepala rumah tangga (karumga) Febrie Adriansyah, ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mulut berbusa di depan Klinik Modernt, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Kamis (23/7/2026).
Editor: Rizky Agustian