Mantan Napi Terorisme Sebut Deradikalisasi Belum Optimal

Rizki Maulana ยท Minggu, 08 Maret 2020 - 05:00 WIB
Mantan Napi Terorisme Sebut Deradikalisasi Belum Optimal

Mantan napi terorisme Haris Amir Fallah. (Foto: iNews.id/Rizki Maulana)

JAKARTA, iNews.id - Salah satu program pemerintah dalam mencegah ideologi radikal yaitu melalui program deradikalisasi. Eks narapidana kasus terorisme Haris Amar Falah menyebut program deradikalisasi yang disusun pemerintah harus ditingkatkan baik untuk peserta di dalam penjara maupun di masyarakat umum.

Pria yang pernah merasakan dinginya jeruji besi selama 4,5 tahun ini mengatakan peningkatan perlu dilakukan karena masih banyak masyarakat yang belum tersentuh secara baik program-program deradikalisasi tersebut. Menurutnya, terkadang program deradikalisasi hanya bersifat seremonial.

"Kalau saya lihat deradikalisasi itu jangan sekadar dianggap seremonial saja, dengan artian ada kegiatan-kegiatan resmi, kemudian ada foto-foto, tetapi tidak ada follow up," ucapnya dalam diskusi Polemik MNC Trijaya FM bertajuk 'WNI ISIS Dipulangkan atau di Lupakan' di Kawasan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2020).

Salah satu program yang perlu ditingkatkan menurut Haris yaitu pemaparan materi untuk mengubah dari yang tadinya berideologi radikal menjadi moderat. Materi tersebut menurutnya harus dibarengi dengan kontrol yang teratur dari pemerintah.

"Jangan hanya tergantung pada bantuan ekonomi, tetapi juga dipelihara dan dibina secara baik. Agar sikap radikal itu ditinggalkan dan menjadi moderat. Juga harus ada kontrol yang bagus dan menurut saya itu yang masih kurang sekarang," ucapnya.

Haris menegaskan masyarakat harus sepakat bahwa paham radikal bukan berasal dari agama manapun. Termasuk agama Islam yang melarang kekerasan dalam bentuk apapun.

"Kepada teman saya yang barangkali masih dalam kubangan radikal untuk hijrah, untuk meninggalkannya, karena radikal terorisme itu tidak ada untungnya bagi kita, justru akan merusak agama kita sendiri," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan, ada sekitar 117 narapidana terorisme yang menjalani deradikalisasi selama tahun 2020.
Data itu disampaikan Mahfud usai mengunjungi Kemenkumham di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2020).

"Tahun 2020 ini ada lebih dari 117 napi terorisme di seluruh Indonesia. Kita kan punya program deradikalisasi, orang yang pernah terpapar atau terlibat terorisme disadarkan kembali," kata Mahfud.

Lebih lanjut, dia menyampaikan dari 117 napi ada sekitar 48 orang yang berasal dari Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Jawa Tengah yang menjalani deradikalisasi. Seperti diketahui Lapas Nusakambangan memiliki fasilitas penjara dengan pengamanan tingkat tinggi untuk napi terorisme.

Editor : Rizal Bomantama