Mengapa Orang Indonesia Memakai Gelar Haji? Ini Penjelasan Kemenag

Irfan Ma'ruf ยท Minggu, 28 Juli 2019 - 15:17:00 WIB
Mengapa Orang Indonesia Memakai Gelar Haji? Ini Penjelasan Kemenag
Jamaah calon haji melaksanakan ibadah tawaf atau berkeliling kakbah pada musim haji 2018 lalu. (Foto: AFP).

MAKKAH, iNews.id – Bagi masyarakat Indonesia, memanggil seseorang dengan “haji” setelah yang bersangkutan pernah menunaikan ibadah haji menjadi suatu kelaziman. Tak hanya di satu daerah, namun hampir di semua wilayah.

Menariknya, sebutan “haji” itu tidak hanya menjadi panggilan sehari-hari, tapi juga masuk ranah administrasi. Tidak sedikit orang yang menambahkan kata “H” yang berarti “Haji”atau “Hj” yang berarti “Hajjah” dalam gelar mereka.

Begitu melekatnya gelar haji ini, jamak ditemukan nama-nama jalan yang beralawan dengan kata haji. Di Ibu Kota Jakarta, misalnya, terdapat nama jalan Haji Nawi di Gandaria, Jakarta Selatan atau Haji Jalan Haji Abdul Rahman di Ciracas, Jakarta Timur.

Pemaikaian gelar haji ini menjadi bahasan menarik Kementerian Agama (Kemenag) ketika menggelar acara Ngaji Manuskrip Kuno Nusantara (Ngariksa) yang menghadirkan filolog Oman Fathurahman (Kang Oman) yang juga sebagai Staf Ahli Menteri Agama.

Oman menuturkan, pemakaian gelar haji oleh masyarakat Indonesia seperti menjadi tradisi. Kebiasaan ini, kata dia, sesungguhnya sah-sah saja.

”Salah satu alasannya, adalah sejak masa silam, perjalanan menuju Tanah Suci bagi orang Nusantara adalah perjuangan berat tersendiri, harus mengarungi lautan, menerjang badai berbulan-bulan, menghindari perompak, hingga menjelajah gurun pasir,” ujarnya dalam laman resmi Kemenag, dikutip Minggu (28/7/2019).

Seorang yang berhasil melalui ujian tersebut dan berhasil kembali selamat ke Tanah Air, kata dia, kemudian dianggap berhasil mendapat anugerah dan kehormatan. Apalagi Kakbah dan Makkah merupakan kiblat suci umat Islam sedunia.

Menurut dia, hal itu yang dalam perkembangannya menjadi lazim di Indonesia muncul pemberian gelar bagi jemaah haji usai menunaikan ibadah di Tanah Suci.

Sementara itu Antropolog UIN Jakarta, Dadi Darmadi, mengatakan, tradisi penyematan gelar haji sebetulnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Di dunia Islam Melayu, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand Selatan juga melakukan hal serupa. Bahkan, hal ini juga terjadi di Mesir Utara.

“Tradisi di Mesir Utara bahkan bukan hanya memberi gelar haji, tapi juga melukis rumahnya dengan gambar Kakbah dan moda transportasi yang digunakan ke Mekkah,” ujarnya.

Tidak dimungkiri, bagi masyarakat Indonesia gelar haji dinilai penting dan membanggakan, juga mencerminkan status sosial tertentu.

Menurut Dadi, tradisi penyematan gelar ini bisa dilihat dari tiga perspektif. Pertama, secara keagamaan, haji merupakan perjalanan untuk menyempurnakan rukun Islam. Perjalanan yang jauh dan panjang, biaya yang mahal, persyaratan yang tidak mudah, membuat haji menjadi sebuah perjalanan ibadah yang semakin penting dan tidak semua orang bisa lakukan.

“Untuk itulah gelar Haji dianggap layak dan terus disematkan bagi mereka yang berhasil melakukannya,” tuturnya.

Sejak awal abad 20, industri perjalanan haji semakin besar. Sejumlah perusahaan kapal Belanda juga turut serta di dalamnya. Jemaah haji Nusantara pun semakin besar jumlahnya.

“Perjalanan haji relatif lebih mudah dan cepat, tapi gelar haji tetap digunakan dan bahkan semakin popular,” kata dia

Kedua, secara kultural, narasi dan cerita-cerita menarik, heroik, dan mengharukan selama berhaji juga terus berkembang menjadi cerita popular, sehingga semakin banyak orang tertarik naik haji. Sebagian besar tokoh-tokoh masyarakat juga bergelar haji. Cerita-cerita ini terus bersambung hingga kini sehingga menjadi semacam genre tersendiri sebagai memoir.

“Hal-hal inilah saya kira yang membuat ibadah haji semakin penting dan gelar haji di Indonesia punya nilai dan status sosial yang tinggi,” ucapnya.

Ketiga, dari perspektif kolonial, penyematan gelar haji juga punya ceritanya tersendiri. Dulu, karena takut akan pengaruh haji bagi gerakan anti-penjajahan, pemerintah kolonial Belanda berusaha untuk membatasi jamaah haji, dengan berbagai cara.

Salah satu caranya dengan membuka Konsulat Jenderal pertama di Arabia pada 1872. Tugas konsulat ini adalah mencatat pergerakan jamaah dari Hindia Belanda, dan mengharuskan mereka memakai gelar dan atribut pakaian haji agar mudah dikenali dan diawasi.

“Itu dari perspektif kolonial. Padahal menurut Snouck Hurgronje, yang meneliti haji, saat itu, jemaah haji tidak layak ditakuti sebagai antipenjajah,” kata dia.

Jangan Hilangkan Esensi Berhaji
Oman, yang juga sebagai Pengendali Teknis Ibadah Haji Kementerian Agama 2019 menambahkan bahwa tradisi menyematkan gelar haji di depan nama, tentu jangan sampai merusak keikhlasan berhaji.

Para jamaah calon haji hendaknya tetap memprioritaskan untuk melaksanakan ibadah tersebut dengan sebaik-baiknya, dan bukan terlena untuk sekadar menyematkan gelar haji.

“Salah satu ciri haji mabrur adalah menjadi orang yang ikhlas dan muhsin (berbuat baik) sepanjang masa, selalu menebar kedamaian, baik ketika maupun usai menunaikan ibadah haji,” kata dia.

Editor : Zen Teguh