Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Wamenkes Bantah Layanan Psikolog di Puskesmas Tak Lagi Dicover BPJS: Itu Hoaks!
Advertisement . Scroll to see content

Mengejutkan! Kasus Percobaan Bunuh Diri Pelajar di Indonesia Naik 2,7 Kali Lipat

Sabtu, 05 September 2026 - 06:12:00 WIB
Mengejutkan! Kasus Percobaan Bunuh Diri Pelajar di Indonesia Naik 2,7 Kali Lipat
Kasus percobaan bunuh diri pelajar di Indonesia naik 2,7 kali lipat dalam kurun tahun 2015 hingga 2023. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Kasus percobaan bunuh diripelajar di Indonesia naik 2,7 kali lipat dalam kurun 2015 hingga 2023. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat persentase siswa yang mencoba mengakhiri hidup meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono dalam acara temu media yang digelar di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, Jumat (4/9/2026). Dante memaparkan hasil perbandingan data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) dalam rentang 2015 hingga 2023.

Berdasarkan survei tersebut, bukan hanya kasus percobaan bunuh diri yang mengalami peningkatan. Persentase siswa yang memiliki ide atau pikiran untuk mengakhiri hidup juga melonjak dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023 atau naik sekitar 1,6 kali lipat.

Dante mengatakan fenomena tersebut seperti gunung es karena kasus yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya terjadi.

"Dia nggak kelihatan, munculnya sedikit yang bunuh diri satu, tapi yang melakukan percobaan bunuh diri ini terus meningkat. 10 sampai 70% dari seluruh siswa, 1 dari 10 siswa itu mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Ini merupakan, dan usia 11 sampai 17 merupakan usia yang rentan untuk mencoba untuk bunuh diri di kelompok usia yang kita lihat dan kita evaluasi," kata Dante.

Menurut dia, kelompok usia 11 hingga 17 tahun menjadi salah satu kelompok yang rentan mengalami persoalan tersebut. Kondisi ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan jiwa pelajar dan remaja.

Dante menegaskan isu kesehatan jiwa di Indonesia tidak boleh dipandang sebelah mata. Gangguan jiwa dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas hidup seseorang, bahkan berada di posisi kedua secara keseluruhan setelah gangguan muskuloskeletal atau gangguan otot dan rangka.

"Dampaknya gangguan jiwa itu besar dan mempengaruhi kualitas hidup. Kalau kualitas hidup itu diukur, ternyata gangguan jiwa itu menempati urutan kedua, di atas penyakit jantung, pembuluh darah, diabetes. Yang pertama gangguan otot dan rangka, gangguan jiwa itu nomor dua mempengaruhi kualitas hidup. Ini begitu pentingnya, orangnya kelihatan sehat tapi kualitas hidupnya itu tidak maksimal karena mereka mengalami gangguan jiwa," ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Kemenkes mendorong deteksi dan intervensi dini dilakukan di berbagai lini masyarakat. Langkah ini dinilai penting agar persoalan kesehatan jiwa pada anak dan remaja dapat diketahui serta ditangani sebelum berkembang menjadi lebih serius.

"Karena itu kita perlu menemukan lebih dini. Karena semakin dini kita menemukan, kualitas hidupnya bisa diperbaiki, percobaan bunuh diri menjadi lebih kecil, dan kita bisa mengevaluasi ini di semua lini," kata Dante.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut