Mengingat Letusan Dasyat Gunung Krakatau Tahun 1883, Akankah Terulang?
Kemudian, pada tahun 1927 muncul gunung api di permukaan laut dikenal dengan Gunung Anak Krakatau. Gunung kecil itu terus-menerus meletus untuk tumbuh. Rata-rata setiap tahun bertambah tinggi 4-6 meter.
“Tidak akan terjadi letusan yang besar karena energi yang ada tidak besar. Bahkan beberapa ahli mengatakan perlu minimal tiga abad lagi untuk menghasilkan letusan yang besar dari Gunung Anak Krakatau yang sedahsyat tahun 1883,” tutur Sutopo.
Letusan Krakatau terjadi 26 Agustus 1883 (gejala muncul awal Mei.Puncak letusan hebat meruntuhkan kaldera. Sehari kemudian atau 27 Agustus, dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai dan melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya.
“Aktivitas seismik tetap berlangsung hingga Februari 1884. Letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah,” ujar Sutopo.
Dampak dari meletusnya Gunung Krakatau pada waktu itu, setidaknya 36.417 korban meninggal dunia akibat letusan dan tsunami. Letusan tersebut juga dirasakan di seluruh penjuru dunia.
Fase Puncak Letusan Gunung Krakatau
Pada 25 Agustus 1883, letusan Gunung Krakatau semakin meningkat. Sehari kemudian atau 16 Agustus sekitar pukul 13.00 WIB, Krakatau memasuki fase paroksimal. Satu jam kemudian, pengamat melihat awan abu hitam dengan ketinggian 27 km. Saat itu, letusan terjadi terus-menerus dan ledakan terdengar setiap sepuluh menit sekali.
Kapal-kapal yang berlayar dalam jarak 20 km dari Krakatau dihujani abu tebal dan potongan-potongan batu apung panas berdiameter hampir 10 sentimeter yang mendarat di dek kapal. Sekitar pukul 18-19.00 WIB, tsunami kecil menghantam pesisir Pulau Jawa dan Sumatera hampir 40 km.
Lalu, 27 Agustus, empat letusan besar kembali terjadi pukul 05.30, 06.44, 10.02, dan 10:41 WIB. Pada pukul 5.30 WIB, letusan pertama terjadi di Gunung Perbuatan yang memicu tsunami menuju Teluk Betung. Pukul 06.44 WIB, Gunung Krakatau meletus lagi di Danan yang menimbulkan tsunami ke arah timur dan barat.
Letusan besar terjadi pukul 10.02 WIB hingga terdengar hampir 3.110 km atau sampai ke Perth, Australia Barat dan Rodrigues di Mauritius. “Penduduk di sana mengira bahwa letusan tersebut adalah suara tembakan meriam dari kapal terdekat,” ucap Sutopo.
Masing-masing letusan disertai dengan gelombang tsunami, yang tingginya diyakini mencapai 30 m di beberapa tempat. Wilayah-wilayah di Selat Sunda dan sejumlah wilayah di pesisir Sumatera turut terkena dampak aliran piroklastik gunung berapi.
Menurut dia, energi yang dilepaskan dari ledakan diperkirakan setara dengan 200 megaton TNT (bom) atau hampir empat kali lipat lebih kuat dari tsar bomba (senjata termonuklir paling kuat yang pernah diledakkan).