Mengingat Letusan Dasyat Gunung Krakatau Tahun 1883, Akankah Terulang?
Pukul 10.41 WIB, tanah longsor meruntuhkan setengah bagian Rakata memicu terjadinya letusan terakhir. Letusan besar terakhir terdengar hingga 3.000 mil. Setidaknya 36.417 korban meninggal dunia, 20 juta ton sulfur dilepaskan ke atmosfer hingga menyebabkan musim dingin vulkanik (suhu di seluruh dunia berkurang dengan rata-rata 1,2 celcius selama 5 tahun). Letusan gunung api ini paling hebat dalam sejarah.
Tanggal 27 Agustus 1883, hujan abu panas turun di Ketimbang (sekarang desa Banding, Rajabasa, Lampung). Kurang lebih 1.000 orang tewas akibat hujan abu di Rajabasa. Kombinasi aliran piroklastik, abu vulkanik, dan tsunami juga berdampak besar terhadap wilayah di sekitar Krakatau.
Tak satu pun warga selamat dari total 3.000 jiwa penduduk pulau Sebesi, yang jaraknya sekitar 13 km dari Krakatau. Aliran piroklastik menewaskan kurang lebih 1.000 orang di Ketimbang dan di pesisir Sumatera yang berjarak 40 km di sebelah utara Krakatau.
Jumlah korban jiwa dicatat oleh pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu, sebanyak 36.417 jiwa. Namun beberapa sumber menyatakan jumlah korban tewas melebihi 120.000 jiwa.
Kapal-kapal yang berlayar jauh hingga ke Afrika Selatan juga melaporkan guncangan tsunami dan mayat korban terapung di lautan berbulan-bulan setelah kejadian. Kota Merak, Banten luluh lantak oleh tsunami, serta kota-kota di sepanjang pantai utara Sumatera hingga radius 40 km ke daratan.
Akibat letusan Gunung Krakatau, pulau-pulau di Kepulauan Krakatau hampir seluruhnya menghilang, kecuali tiga pulau di selatan. Gunung api kerucut Rakata terpisah di sepanjang tebing vertikal menyisakan kaldera sedalam 250 meter (820 ft). Dua pulau di utara hanya pulau dengan berbatuan bernama Bootsmansrots yang tersisa. Sementara wilayah Poolsche Hoed juga hilang.
Setahun setelah letusan, rata-rata suhu global turun 1,2 derajat celcius. Pola cuaca tak beraturan selama bertahun-tahun dan suhu tidak pernah normal hingga tahun 1888.
Tidak ada catatan sejarah yang mencatat berapa lama dampak yang ditimbulkan akibat letusan Gunung Krakatau dan dampak ikutannya, seperti tsunami, longsor, wabah penyakit, gagal panen, dan lainnya. Begitu juga jumlah masyarakat yang mengungsi juga tidak ada dalam catatan sejarah.
Kerugian yang ditimbulkan akibat letusan Gunung Krakatau sangat besar. Belanda memerlukan waktu puluhan tahun untuk kembali membangun dan memulihkan perkebunan serta pertanian di wilayah Hindia Belanda.
Oleh karena itu, letusan pada 1883 akan sulit terulang kembali. Letusan-letusan yang terjadi hampir setiap hari dari Gunung Anak Krakatau sekarang ini merupakan fenomena biasa. Seperti halnya anak dalam fase pertumbuhan, Gunung Anak Krakatau juga meletus untuk membesar dan meninggikan tubuhnya.
“Letusan-letusan yang dihasilkan tidak pernah besar karena energi magma yang naik ke permukaan juga tidak besar. Tidak akan menghasilkan tsunami seperti halnya 1883,” kata Sutopo.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang. PVMBG terus memantau aktivitas vulkanik. Kendati ratusan kali meletus per hari, status Gunung Anak Krakatau tetap tidak dinaikkan karena tidak membahayakan.
“Terpenting masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dari puncak kawah Gunung Anak Krakatau. BNPB, BPBD, dan aparat pemerintah pasti akan mengambil langkah-langkah penanganan jika kondisinya membahayakan masyarakat,” tutur dia.
Editor: Khoiril Tri Hatnanto