Meutya Hafid Minta Perusahaan Media Wajibkan Debriefing bagi Jurnalis usai Liputan Berat
Dia menegaskan, perusahaan media perlu mengambil tanggung jawab dalam menjaga kondisi psikologis jurnalis, khususnya setelah mereka menyelesaikan penugasan yang berpotensi menimbulkan tekanan mental.
"Seperti waktu dalam kondisi misalnya habis meliput daerah konflik, maka perusahaan medianya wajib untuk memberikan waktu teman-teman wartawan untuk di-debrief. Jadi ketika dikembalikan dulu, baru kemudian meliput hal-hal berat lainnya," tuturnya.
Debriefing merupakan proses evaluasi dan pembahasan setelah seseorang menjalani suatu pengalaman atau penugasan. Dalam konteks jurnalistik, proses ini dapat menjadi kesempatan bagi wartawan untuk membicarakan pengalaman selama liputan, mengidentifikasi tekanan yang dialami, serta mendapatkan dukungan sebelum kembali bertugas.
Meutya juga mengingatkan bahwa wartawan tidak seharusnya merasa malu untuk mengakui ketika mengalami tekanan psikologis. Menurut dia, kemampuan mengenali batas diri justru menjadi bagian penting dari profesionalisme seorang jurnalis.
"Teman-teman wartawannya juga memang harus mau mengaku. Kalau dulu, kita merasa ketika kita merasa terganggu, itu seolah kita wartawan yang lembek, jadi bukan wartawan yang kuat. Nah, wartawan yang andal itu tahu kapan berhenti. Wartawan yang cakap tahu limitasinya," jelasnya.