Pantun Sindiran Partai Demokrat untuk Fahri Hamzah dan Yusril
Irwan Fecho menegaskan, AD/ART partai itu konsitusi partai, ada proses penyusunannya yang hasilnya merupakan kesepakatan bersama (kalimatun sawa), yang setelah disusun dan disepakati, baru kemudian diterapkan. Jangan setelah diterapkan baru Fahri menyadari dan mengatakan ada cacat.
"Menurut saya dia bukan korban AD/ART, namun karena dia tidak mau menerima hukum sebagai pembatasan yang telah mengatur hak dan kewajiban sebagai anggota partai. Sebelum berpartai harusnya dia sadar itu. Kalau pikirannya saja dia anggap benar, justru itu tidak demokratis," tutur Irwan.
Oleh karena itu, kata Irwan, demokratisasi yang benar itu dari internal, bukan didesakkan dari luar (imposed from without). Kalau mengenai cacat/tidaknya sebuah AD/ART partai, itu tidak bisa dinilai oleh Fahri seorang.
"Karena demokrasi itu pikiran banyak orang, bukan Fahri semata," ucao Ketua Umum Cakra AHY ini.
Menutup tanggapan ini, Irwan juga menuliskan pantun yang khusus dia buat untuk Fahri Hamzah dan Yusril. Berikut bunyinya:
Yusril Menggugat Membuka Kedai
Nampak Berkhutbah dengan Lihai
Fahri Bertepuk Tangan Berlagak Pandai
Bolehlah Diupah dengan Sedikit Berbagi
Kalau ingin selalu dipuji
Pakailah sarung sepanjang kaki
Kalau ingin dihargai
Etika berpartai dijunjung tinggi
Salam takzim,
Irwan Fecho
Editor: Rizal Bomantama