Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Ekonom Soroti Efek Domino ke Ekonomi RI
Akibatnya, UMKM mengalami penurunan kemampuan dalam membeli bahan baku, menambah mesin, atau merekrut tenaga kerja, sementara industri padat karya bermargin tipis berisiko menunda ekspansi hingga melakukan efisiensi pekerja.
Transmisi risiko dari pasar keuangan juga merembet ke sektor perbankan melalui potensi kenaikan suku bunga kredit. Tingginya beban pembiayaan tersebut mengancam daya tahan pelaku usaha mikro serta laju penyerapan tenaga kerja di dalam negeri.
"Stabilitas moneter memang penting, tetapi stabilitas yang terlambat dipulihkan dapat dibayar dengan perlambatan sektor riil," ujarnya.
Tak hanya itu, guncangan di bank sentral turut menekan pemerintah selaku penerbit Surat Berharga Negara (SBN). Ketika investor melihat peningkatan risiko kelembagaan, mereka akan meminta imbal hasil (yield) yang lebih tinggi, sehingga pemerintah harus membayar bunga utang baru maupun refinancing secara lebih mahal.
Achmad menyoroti laporan APBN KiTa edisi Juli 2026, pembiayaan utang neto hingga akhir Juni telah menyentuh Rp477,4 triliun atau 57,4 persen dari target APBN, sedangkan penerbitan SBN neto mencapai Rp501,2 triliun atau setara 62,7 persen dari target tahunan.
"Dengan kebutuhan penerbitan yang masih besar, perubahan persepsi investorterhadap independensi BI dapat langsung menaikkan biaya pembiayaan negara," tuturnya.
Editor: Aditya Pratama