PLN IP Uji Campuran Hidrogen-Amonia untuk Pembangkit, Tingkatkan Efisiensi dan Pangkas Emisi
Direktur Utama PLN IP Bernadus Sudarmanta mengatakan, pengembangan bahan bakar alternatif menjadi salah satu langkah perusahaan dalam mendukung transisi energi. Namun, penerapannya tetap harus memperhatikan keandalan pasokan listrik dan efisiensi pembangkit.
“Transisi energi membutuhkan inovasi yang dapat diterapkan secara bertahap, terukur, dan tetap mengedepankan keandalan pasokan listrik. Pengujian co-firing hidrogen dan amonia menjadi langkah PLN Indonesia Power dalam mengembangkan alternatif bahan bakar yang berpotensi menekan emisi karbon sekaligus meningkatkan efisiensi pembangkitan. Kami terus mendorong pengembangan teknologi ini melalui pengujian dan evaluasi agar manfaatnya dapat dioptimalkan secara berkelanjutan,” ujar Bernadus dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).
Selain hidrogen, PLN IP menguji penggunaan amonia sebagai campuran bahan bakar di PLTU Labuan. Dalam teknologi ini, amonia dicampurkan dengan batu bara di boiler untuk mengurangi konsumsi batu bara dalam proses pembangkitan listrik.
Pada pengujian dengan rasio campuran amonia sebesar 1 persen, perusahaan mencatat potensi peningkatan efisiensi PLTU hingga 1,3 persen. Penggunaan teknologi tersebut juga diperkirakan dapat menghemat konsumsi batu bara sekitar 19.700 ton per tahun dan menurunkan emisi karbon hingga 1,8 persen.
PLN IP memperkirakan potensi pengurangan emisi tahunan PLTU mencapai 35.000 ton melalui pengembangan teknologi tersebut.
Untuk mendukung pengembangan co-firing amonia, perusahaan merencanakan pemanfaatan kelebihan pasokan hidrogen atau ekses hidrogen dari PLTGU Cilegon, PLTGU Priok, dan PLTGU Tambak Lorok sebagai bahan baku produksi amonia hijau.
Langkah ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan hidrogen dalam ekosistem pembangkitan sekaligus membuka peluang pengembangan bahan bakar rendah karbon.
Editor: Aditya Pratama