Sejarah Letusan Dahsyat Gunung Krakatau Tahun 1883, Dampaknya Sampai Eropa
Kajian tsunami modern menunjukkan gelombang yang ditimbulkan letusan mencapai puluhan meter di sejumlah kawasan pesisir Selat Sunda. GeoNet, lembaga pemantauan geohazard Selandia Baru, menyebut tsunami sekitar 30 meter dan menyebut sekitar 165 desa pesisir di Jawa dan Sumatra terdampak.
Setelah rangkaian ledakan berakhir, pemandangan di Selat Sunda berubah. Krakatau yang sebelumnya merupakan pulau besar sebagian besar telah lenyap. Keruntuhan tubuh gunung membentuk sebuah kaldera besar di bawah laut.
Menurut Smithsonian Global Volcanism Program, letusan 1883 menghancurkan kerucut Danan dan Perbuwatan serta menyisakan bagian dari Rakata.
Dari kawasan kaldera inilah kelak muncul gunung api baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau. Anak Krakatau tumbuh di dalam kaldera yang terbentuk akibat letusan 1883. Aktivitas erupsi Anak Krakatau kemudian mulai tercatat sejak 1927.
Dunia Ikut Merasakan Dampaknya
Dampak letusan Krakatau tidak berhenti di Indonesia. Material vulkanik yang terlontar sangat tinggi ke atmosfer memengaruhi kondisi langit di berbagai wilayah dunia, termasuk di Eropa.
Beberapa bulan setelah letusan, laporan mengenai matahari terbenam dengan warna merah dan jingga yang tidak biasa bermunculan di berbagai tempat.
Natural History Museum Inggris mengungkapkan, letusan Krakatau berkontribusi terhadap perubahan atmosfer dan pendinginan global setelah erupsi.
Editor: Reza Fajri