SETARA Desak Polisi Bongkar Aktor di Balik Kekerasan Ormas saat Demo: Jangan Berhenti pada Pelaku Lapangan
Dalam aksi massa berskala besar, kemungkinan adanya penyusupan atau pihak yang datang kemudian untuk menunggangi situasi juga perlu diperhitungkan. Karena itu, kerusuhan tidak dapat langsung dianggap sebagai gambaran seluruh demonstran yang menyampaikan aspirasi secara damai.
Hendardi meminta seluruh kasus diungkap secara profesional, transparan, dan berdasarkan bukti. Sejumlah instrumen penyelidikan dapat digunakan, mulai dari rekaman CCTV, video masyarakat, jejak digital hingga keterangan saksi.
Terkait rilis sketsa wajah terduga pelaku, Hendardi menilai langkah tersebut tidak perlu dianggap sebagai tanda Kepolisian kehilangan petunjuk. Sebaliknya, proses tersebut dapat menjadi bagian dari penyelidikan untuk mengembangkan berbagai informasi dan mengidentifikasi pelaku.
"Yang ditunggu publik bukan sekadar sketsa, melainkan siapa pelakunya, apa motifnya, dari mana mereka datang, serta apakah terdapat pihak yang mengorganisasi tindakan tersebut. Jika memang ada kelompok tertentu yang terlibat, ungkap berdasarkan bukti. Sebaliknya, jangan pula ada kelompok yang dikambinghitamkan jika tidak terbukti," ujarnya.
Hendardi turut menyoroti pola yang dinilai berulang antara aksi pada Agustus 2025 dan aksi 2026. Dia menyebut adanya keterlibatan ormas, kemunculan massa perusuh, serta jatuhnya korban sebagai hal yang perlu mendapat perhatian serius.