Siapa Sangka, Jenderal Ini Lahir dari Keluarga Petani Miskin dan Yatim sejak Umur 5 Tahun

Riezky Maulana ยท Senin, 26 April 2021 - 17:30:00 WIB
Siapa Sangka, Jenderal Ini Lahir dari Keluarga Petani Miskin dan Yatim sejak Umur 5 Tahun
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2019-2023 Firli Bahuri. (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay).

JAKARTA, iNews.id – Puluhan kilometer ditempuh. Jalan setapak hingga pematang sawah menjadi alas. Namun tak pernah ada kata menyerah. Bocah itu terus melangkah gagah demi bangku sekolah.

Lahir dari petani miskin menjadikan dia ditempa lahir dan batin. Terlebih kala sang ayah meninggal dunia. Di umur lima tahun, sang bocah asal Desa Lontar, Kecamatan Muara Jaya, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan itu menjadi yatim.

Desa Lontar merupakan kawasan cukup terpelosok di OKU. Desa ini berjarak 5 jam 13 menit perjalanan dari Kota Palembang. Di desa inilah pada 8 November 1963 sang bocah lahir di rumah sederhana.

Jabang bayi tersebut diberi nama Firli Bahuri. Kehidupan Firli kecil tidak mudah. Untuk bersekolah, misalnya, dia harus menempuh perjalanan 16 kilometer pergi pulang setiap hari. 

Menjadi yatim, Firli juga menjadi tulang punggung dengan membantu ibunya untuk mencari nafkah bagi keluarga. Berjualan kue hingga bekerja mencuci mobil pun dijalaninya demi membayar biaya sekolah.

Tapi tak pernah ada kata menyerah. Kehidupan sulit justru mengasahnya menjadi sosok ulet dan tegar. Beranjak remaja, Firli terus meniti kerasnya hidup untuk mewujudkan mimpi.

Pada 1982 dia lulus dengan baik dari SMAN 3 Palembang. Selepas dari bangku sekolah menengah, tujuannya satu: masuk Akabri.

Namun apa daya, dewi fortuna belum berpihak. Firli gagal masuk lembaga pendidikan militer yang menjadi idaman banyak anak bangsa itu. 

Kendati demikian, kegagalan tersebut tak pernah membuatnya runtuh. Pada 1984 Firli mendaftar sebagai bintara polisi. Dia diterima dan resmi menjadi anggota Korps Bhayangkara dengan pangkat sersan dua.

Tapi mimpi masuk Akabri tak pernah padam. Saban tahun Firli selalu mencoba. Tekadnya membara. Gagal, berjuang. Gagal lagi, berjuang kembali. Begitu terus dilakukan tanpa putus dengan ikhtiar mendalam.

Editor : Zen Teguh

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel:







Lokasi Tidak Terdeteksi

Aktifkan untuk mendapatkan berita di sekitar Anda