Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Islah Bahrawi Duga Video Budi Arie Sengaja Dibocorkan: Jokowi Mungkin Kecewa dengan Prabowo
Advertisement . Scroll to see content

Sosiolog Soroti Pertemuan Jokowi-Budi Arie: Tidak Ada Pertemuan yang Tak Bermakna Politik

Selasa, 15 September 2026 - 22:27:00 WIB
Sosiolog Soroti Pertemuan Jokowi-Budi Arie: Tidak Ada Pertemuan yang Tak Bermakna Politik
Sosiolog Musni Umar dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Bisik-Bisik Percepatan Pemilu, Siapa Mengusik?', Selasa (15/9/2026). (Foto: tangkapan layar)
Advertisement . Scroll to see content

Musni turut menyinggung berbagai persoalan yang terjadi di Indonesia, termasuk munculnya isu mengenai penggantian presiden. 

Menurutnya, persoalan tersebut tidak terlepas dari kondisi demokrasi Indonesia yang dinilainya belum berjalan sebagaimana mestinya.

Dia menilai pembahasan mengenai percepatan pemilu seperti yang disampaikan Budi Arie bukan menjadi hal utama yang perlu didorong saat ini. Musni justru meminta agar Presiden Prabowo Subianto didorong untuk membenahi berbagai persoalan yang terjadi.

"Pemilu yang kita laksanakan ini betul-betul enggak sesuai kriteria demokrasi itu sendiri, semuanya karena uang, anda bisa jadi anggota parlemen, Anda bisa jadi bupati, gubernur, wali kota karena Anda punya uang. Itu demokrasi yang kita amalkan sekarang ini, jadi apa gunanya kita bicara mempercepat pemilu, lebih baik kita desak Presiden Prabowo itu untuk mengatasi masalah defisit anggaran yang begitu besar, yang kemudian ditutup dengan utang," ucapnya.

Musni juga menyatakan setuju dengan pandangan Presiden Gerakan Oposisi, Syukur Mandar, agar Prabowo melakukan perubahan besar dan menjalankan amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 mengenai penguasaan bumi dan kekayaan alam oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

"Saya setuju yang disampaikan Presiden (Gerakan) Oposisi, Syukur Mandar itu supaya Prabowo melakukan revolusi, mengamalkan Pasal 33 ayat 3 UUD 45, bumi dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya (demo) kemakmuran rakyat. Sekarang ini yang menguasai segelintir orang Indonesia dan asing, kita akhirnya menjadi negara tiap tahun berutang, berutang, berutang," tuturnya.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut