Tiga Sosok Pendiri Indische Partij, Partai Politik Pertama di Hindia Belanda
Ki Hadjar Dewantara memberikan kontribusi yang besar bagi Indonesia, terutama dalam bidang pendidikan pada saat itu. Ia juga mencetuskan semboyan pendidikan yang masih terkenal dan digunakan hingga saat ini.
Tokoh pendiri Indische Partij yang terakhir adalah Tjipto Mangoenkoesoemo. Ia lahir pada tanggal 4 Maret 1886 di Desa Pecagakan, Jepara. Indische Partij, menurut pandangan Tjipto Mangoenkoesoemo, adalah sebuah inisiatif yang terpuji yang dapat mewakili kepentingan seluruh penduduk di Hindia Belanda tanpa memandang perbedaan golongan, suku, ras, dan agama yang mereka anut.
Selama aktif di Indische Partij, Tjipto Mangoenkoesoemo menghadapi pengasingan oleh pemerintah kolonial ke Belanda karena tulisan-tulisannya dan aktivitas politiknya. Baru pada tahun 1917, Belanda mengizinkan Tjipto Mangoenkoesoemo kembali ke Indonesia.
Tjipto Mangoenkoesoemo memiliki visi dan misi yang sama dengan Douwes Dekker mengenai persatuan Indonesia. Ia percaya bahwa penggabungan unsur Barat dan Timur akan berperan penting dan menjadi faktor yang menjamin pertumbuhan yang subur bagi negara dan rakyat, termasuk kaum bumiputera.
Selain dikenal sebagai aktivis dalam gerakan nasional, Tjipto Mangoenkoesoemo juga merupakan seorang dokter. Ia tutup usia pada tanggal 8 Maret 1943 dan jenazahnya dimakamkan di TMP Ambarawa, Jawa Tengah.
Berkat kontribusi Tjipto Mangoenkoesoemo, pemerintah Indonesia mengabadikan namanya pada pecahan uang logam rupiah senilai Rp200. Nama Tjipto Mangoenkoesoemo juga dijadikan nama sebuah rumah sakit besar di Jakarta.
Demikianlah ulasan mengenai tiga sosok pendiri Indische Partij yang memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia pada masa kolonial.
Editor: Komaruddin Bagja