Tim Ma'ruf Amin: Pilpres Bukan Perang, Rakyat Jangan Ditakut-takuti

Irfan Ma'ruf ยท Selasa, 26 Februari 2019 - 02:02 WIB
Tim Ma'ruf Amin: Pilpres Bukan Perang, Rakyat Jangan Ditakut-takuti

Tim pemenangan cawapres Ma'ruf Amin mengajak masyarakat menyambut pilpres dengan kegembiraan, bukan malah diisi dengan hal-hal yang membuat takut rakyat. (Foto: istimewa).

JAKARTA, iNews.id - Pemilihan Presiden (Pilres) 2019 bukan ajang pertempuran kandidat dengan menghalalkan segala cara. Pilpres tak lebih dari pesta demokrasi yang seharusnya disambut sukacita oleh seluruh rakyat Indonesia.

Tim pemenangan cawapres Ma’ruf Amin mengingatkan, sebagai pesta demokrasi penuh kegembiraan, sudah sewajarnya pula tidak ada rakyat yang ditakut-takuti oleh pihak mana pun, apalagi hanya untuk kepentingan politik.

”Sangat disayangkan, pesta demokrasi (pilpres) kok disamakan dengan perang. Yang namanya pesta harus dilalui dengan sukacita dan tidak menakuti-nakuti seperti itu,” kata putra Ma’ruf Amin, Ahmad Syauqi merespons kontroversi doa Neno Warisman di acara Munajat 212, Senin (25/2/2019).

Seperti diketahui, Neno yang merupakan pendukung capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno membacakan puisi bernada kontroversi.

Neno Warisman. (Foto: iNews.id/Aditya Pratama).

Penuh ekspresi, Neno yang lantang menyuarakan #2019GantiPresiden itu mengaku khawatir tidak ada yang menyembah Allah SWT lagi, jika Prabowo-Sandi tidak menang dalam Pilpres, pada 17 April mendatang. Doa itu diucapkan pada acara Munajat 212 pada Kamis (21/2/2019) malam di Lapangan Monas, Jakarta.

Menurut Syauqi, puisi dan doa Neno sangat konyol. Sebab dalam kalimat doa itu malah menakut-takuti Tuhan. ”Orang ini mengigau. Dia terlalu berani mengancam Tuhan dan merasa dirinya orang paling suci,” kata dia.

Kritik atas doa Neno sebelumnya dilontarkan dari berbagai kalangan. Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai doa itu bagian dari kampanye yang keliru.

Menurut Wakil Ketua TKN Abdul Kadir Karding, pemilihan diksi pada puisi Neno Warisman tampak sekali dibuat untuk menggiring opini publik. Isi puisi seolah-olah hanya kelompok yang sejalan dengan Neno Warisman yang menyembah Allah SWT, sementara kelompok yang berseberangan tidak.

“Bagi saya apa yang diucapkan Neno Warisman dalam acara Munajat 212 di Monas tidak pantas disebut sebagai doa. Melainkan cuma orasi politik yang bersifat pragmatis berkedok agama,” katanya.

Editor : Zen Teguh