Harga Bahan Baku Baterai Meroket, Mobil Listrik Bisa Lebih Mahal
JAKARTA, iNews.id – Harga lithium di dunia mengalami kenaikan signifikan. Kenaikan harga bahan utama baterai ini diprediksi bisa membuat mobil listrik semakin mahal.
Dikutip dari Autoblog, berdasarkan data dari Asian Metal Inc, harga lithium karbonat mencetak rekor kenaikan menjadi 71.315 dolar AS (Rp1,077 miliar) per ton di China.
Harga tersebut naik lebih dari tiga kali lipat pada tahun lalu. Ini akan meningkatkan biaya produksi baterai yang digunakan dalam kendaraan listrik. Kenaikan ini disebabkan permintaan yang besar dan gangguan pengiriman di pusat produksi domestik.
Asosiasi Mobil Penumpang China memperkirakan penjualan EV mencapai rekor 6 juta secara global pada tahun ini. Jumlah itu dua kali lipat dari total penjualan pada 2021.
Pemadaman listrik sepanjang Agustus selama dua pekan di Provinsi Sichuan, rumah bagi lebih dari seperlima produksi lithium di Cina, menghambat pasokan.
“Produksi dan penjualan EV stabil dalam beberapa bulan terakhir. Ini dapat menyebabkan kekurangan daya baru dan menghantam produksi lithium,” ujar Rystad Energy, sebuah perusahaan riset dikutip dari Autoblog.
Mencegah masalah terus berlanjut, perusahaan-perusahaan besar diminta membantu menstabilkan harga. Produsen tidak boleh berkolusi dalam penetapan harga dan tidak memasang harga yang sangat tinggi.
Pemerintah China juga akan mengambil langkah-langkah untuk mendorong eksplorasi, menstabilkan impor dan mempromosikan daur ulang.
Perusahaan Soc. Quimica & Minera de Chile SA, produsen lithium nomor dua di dunia, memperkirakan pasar yang sangat ketat di tahun-tahun mendatang.
SQM melihat harga sedikit lebih tinggi dibandingkan tiga bulan sebelumnya dan mengharapkan harga tetap pada level yang sama pada kuartal keempat.
Produsen baterai besar di China, Ganfeng Lithium Co mengatakan harga untuk pesanan baru akan dinilai kembali di tengah kenaikan substansial dalam biaya sel daya.
Perusahaan ini memasok baterai lithium polimer kecil untuk produk smart wearable dan baterai headset Bluetooth untuk beberapa perusahaan, termasuk Xiaomi Corp.
Amerika Serikat juga masih bergantung pada China sebagai pemasok bahan pembuatan baterai. Untuk menghemat biaya produksi, AS membuka pintu kepada perusahaan China yang ingin membangun pabrik baterai di sana.
Editor: Dani M Dahwilani