Tak Hanya Teknologi, Anak Muda Kini Soroti Limbah Baterai Mobil Listrik
"Seluruh peserta tidak hanya ditantang untuk mempertahankan argumen negara yang mereka wakili, tetapi juga untuk melihat setiap isu melalui tiga lensa utama: kekuatan, keadilan, dan waktu," kata Fahrizal dalam keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).
"Dari ketiga perspektif tersebut, para peserta diharapkan mampu merumuskan kebijakan yang relevan dan berdampak. Tugas ini jauh lebih menantang daripada sekadar memenangkan debat—ini adalah proses nyata untuk membangun dunia yang lebih baik," tambahnya.
Pembahasan mengenai limbah baterai lithium menjadi menarik karena isu tersebut diperkirakan akan semakin mengemuka seiring percepatan penggunaan kendaraan listrik di berbagai negara.
Di satu sisi, elektrifikasi transportasi dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan emisi gas rumah kaca. Namun di sisi lain, meningkatnya jumlah baterai yang memasuki masa akhir pakai menuntut sistem daur ulang dan pengelolaan limbah yang aman agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.
Selain membahas isu lingkungan, peserta juga mendiskusikan pemerataan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas melalui forum UNESCO. Kedua isu itu dipilih karena dinilai merepresentasikan tantangan global yang membutuhkan kolaborasi lintas negara.