Bukan Hanya Desain dan Teknologi, Ini Faktor Bikin yang Menentukan Konsumen Puas dengan Merek Mobil
JAKARTA, iNews.id - Kepuasan konsumen terhadap sebuah merek mobil ternyata tidak hanya ditentukan desain menarik dan teknologi canggih. Keandalan mesin, kenyamanan berkendara, efisiensi energi, hingga kualitas layanan purna jual menjadi faktor penting yang memengaruhi pengalaman kepemilikan kendaraan.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan terbaru Populix bertajuk Decoding Indonesia’s Upper Middle MZs Consumer Signals in the Passenger Car Market. Riset ini memotret preferensi konsumen, khususnya generasi milenial dan Gen Z, terhadap delapan merek mobil penumpang yang banyak dibeli dalam lima tahun terakhir.
Associate Research Director Populix Susan Adi Putra mengatakan, Toyota, Hyundai, dan Daihatsu menempati tiga posisi teratas dalam hal kepuasan pelanggan.
Menurut dia, setiap merek memiliki keunggulan yang menjadi pertimbangan konsumen. Keandalan dan kinerja mesin menjadi faktor penting bagi pengguna Hyundai dan Mitsubishi. Sementara itu, kenyamanan berkendara menjadi salah satu aspek yang menonjol bagi pengguna Mitsubishi.
Di sisi lain, desain modern dan menarik banyak diapresiasi pengguna Wuling, Hyundai, dan BYD. Adapun efisiensi energi menjadi keunggulan yang diperhatikan pengguna Suzuki dan Daihatsu.
Namun, kepuasan konsumen tidak hanya berhenti pada kualitas kendaraan. Pengalaman setelah pembelian atau layanan purna jual juga menjadi bagian penting dalam membangun loyalitas pelanggan.
Populix menemukan mayoritas pengguna mobil mengharapkan tiga aspek utama dalam layanan purna jual, yakni kualitas pengerjaan servis, ketersediaan suku cadang, serta profesionalisme staf servis dalam menjelaskan masalah kendaraan. Harapan tersebut secara umum telah dipenuhi sejumlah merek otomotif terkemuka, yakni Toyota, Honda, dan Hyundai.
Persepsi Konsumen terhadap Delapan Merek Mobil
Dalam penelitian tersebut, Populix juga memetakan asosiasi merek berdasarkan pendapat konsumen. Pemetaan mencakup tiga aspek, yaitu produk, teknologi dan desain, serta nilai kepemilikan dan kepercayaan.
Susan menjelaskan, BYD memiliki citra kuat sebagai merek inovatif dengan teknologi mutakhir dan desain premium. Daihatsu dikenal melalui layanan purna jual, jaringan dealer luas, serta garansi mesin dan perawatan gratis.
Sementara itu, Honda dan Toyota diasosiasikan dengan nilai jual kembali yang tinggi serta performa mesin yang kuat, mulai dari akselerasi, pengereman, pengendalian, hingga tenaga mesin.
Hyundai dipersepsikan sebagai merek dengan paket lengkap, mencakup keamanan, kenyamanan, fitur, kemudahan penggunaan, desain premium, serta inovasi teknologi dan konektivitas.
Mitsubishi memiliki asosiasi kuat dalam kualitas kendaraan yang solid dan kenyamanan berkendara. Suzuki dikenal melalui layanan purna jual, jaringan dealer luas, serta harga yang sebanding dengan kualitas produk. Adapun Wuling memiliki citra sebagai salah satu pionir di segmen mobil listrik Indonesia.
"BYD memimpin inovasi dan teknologi mutakhir; Daihatsu dikenal karena layanan purna jualnya; Honda dan Toyota memiliki nilai jual kembali yang tinggi; Hyundai dikenal sebagai paket komplit di sisi keamanan, kenyamanan, fitur, dan penggunaan; Mitsubishi dipercaya dalam kualitas mobil dan kenyamanan berkendara; Suzuki memiliki garansi dan perawatan terbaik; dan Wuling dianggap sebagai pionir EV di Indonesia," kata Susan.
Dia menambahkan, asosiasi merek tersebut menggambarkan bagaimana konsumen memandang setiap produsen otomotif. Meski persepsi tersebut belum tentu sepenuhnya mencerminkan data konkret, hasil pemetaan tetap dapat menjadi masukan bagi pelaku industri.
"Maka dari itu, tiap brand perlu memastikan apakah nilai kuat yang mereka tonjolkan sudah cukup tersampaikan, atau malah harus menyesuaikan kembali untuk menjaring lebih banyak pengguna," ujarnya.
Temuan ini menunjukkan persaingan industri otomotif semakin kompleks. Produsen tidak cukup hanya menghadirkan desain menarik dan teknologi terbaru, tetapi juga harus memastikan kualitas kendaraan, efisiensi, kenyamanan, serta layanan purnajual mampu memenuhi ekspektasi konsumen.
Editor: Dani M Dahwilani