Covid-19 Belum Berakhir, Renault di Ambang Kebangkrutan

Riyandy Aristyo ยท Senin, 25 Mei 2020 - 15:13 WIB
Covid-19 Belum Berakhir, Renault di Ambang Kebangkrutan

Krisis ekonomi akibat pandemi virus corona (Covid-19) mengancam keberlangsungan hidup Renault. (Foto: Renault)

PARIS, iNews.id - Krisis ekonomi akibat pandemi virus corona (Covid-19) mengancam keberlangsungan hidup Renault. Artinya, jika tidak mendapatkan bantuan, pabrikan mobil asal Prancis ini akan bangkrut.

Dilansir dari Reuters, Senin (25/5/2020), Menteri Keuangan Prancis, Bruno Le Maire mengatakan, Renault perlu beradaptasi dengan situasi pandemi seperti ini agar bisa bertahan di industri otomotif dalam negeri dan global.

"Pabrik Renault di Flins, Prancis tidak boleh ditutup dan harus dapat mempertahankan pekerjaan sebanyak mungkin di Prancis, dan juga harus tetap kompetitif," kata Bruno Le Maire.

Le Maire menambahkan, pabrikan mobil yang sebagian sahamnya dimiliki pemerintah Prancis ini sebenarnya sedang menunggu persetujuan pinjaman dari negaranya sendiri. Hanya saja, Le Maire belum memberikan tanda tangannya di proposal tersebut.

"Renault harus membawa lebih banyak produksi ke Prancis. Permintaan ini supaya ketersediaan lapangan pekerjaan, jadi lebih banyak. Selain itu, pemerintah Prancis berharap Renault membuat mobil ramah lingkungan," ujarnya.

Diketahui, pimpinan Renault, Jean-Dominique Senard, tengah menyiapkan strategi baru untuk menghadapi situasi ini dan akan melibatkan aliansi Nissan dan Mitsubishi. Saat ini, para anggota aliansi sama-sama berada di situasi tak menguntungkan akibat Covid-19.

Nissan sedang mempertimbangkan untuk memangkas 20.000 tenaga kerja secara global terutama di Eropa dan negara-negara berkembang. Bahkan, Nissan sudah menyuntik mati merek Datsun guna memperbaiki bisnis. Keputusan Nissan mirip ketika menghadapi krisis ekonomi global pada 2009.

Sementara itu, Mitsubishi mengalami penurunan laba tahunan sebesar 89 persen. Untuk itu, Mitsubishi akan fokus pada pemotongan biaya tetap sebesar 20 persen atau lebih dalam dua tahun ke depan.

Editor : Dani Dahwilani