Pakai Biodiesel B50, Apa Mesin Kendaraan Perlu Perawatan Khusus? Begini Kata Pakar
"Proses oksidasi berpotensi menghasilkan peroksida, asam organik, dan gum yang dapat menurunkan kualitas bahan bakar. Di sisi lain, kandungan air dapat memicu hidrolisis, korosi, serta pertumbuhan mikroorganisme yang risikonya semakin meningkat pada campuran tinggi seperti B30 hingga B50 apabila pengelolaannya kurang optimal," katanya.
Dr Leopold menegaskan, kondisi tersebut bukan berarti pemilik kendaraan harus memberikan perlakuan khusus pada mesin. Justru, yang perlu menjadi perhatian adalah menjaga kualitas biodiesel sejak proses produksi, penyimpanan, distribusi, hingga pencampuran sebelum digunakan.
Dia menambahkan, hasil pengujian yang menunjukkan performa mesin tetap baik umumnya menggunakan biodiesel yang masih segar. Karena itu, kondisi penyimpanan dan distribusi dalam jangka panjang masih perlu terus dievaluasi.
Menurut dia, implementasi biodiesel B50 harus dibarengi pengujian jangka panjang dan pemantauan berkala untuk memastikan kualitas bahan bakar tetap terjaga serta tidak memengaruhi keandalan mesin kendaraan.
Selain itu, keterlibatan pemerintah, produsen bahan bakar, industri otomotif, akademisi, hingga masyarakat juga dibutuhkan agar implementasi B50 berjalan optimal.
"Biodiesel perlu dipandang sebagai teknologi transisi menuju sistem transportasi yang lebih rendah emisi. Ke depan, perannya akan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi, kebijakan energi, dan elektrifikasi transportasi hingga tercapai keseimbangan baru menuju target NZE (net zero emission) pada 2050–2060," ujar Dr Leopold.
Editor: Dani M Dahwilani