Miliki Pusat Produksi Independen, Begini Proses Pengujian Ponsel vivo Indonesia

Rizqa Leony Putri · Jumat, 18 Juni 2021 - 10:00:00 WIB
Miliki Pusat Produksi Independen, Begini Proses Pengujian Ponsel vivo Indonesia
Pusat produksi vivo di Indonesia. (Foto: dok vivo)

JAKARTA, iNews.id - vivo membangun pusat produksi independen di Cikupa, Tangerang, Banten. Perusahaan elektronika ini menunjukkan komitmen bisnis jangka panjangnya pada tahun ketiga memasuki pasar Indonesia, yaitu sejak 2016.

Ini menjadi pusat produksi pertama dan satu-satunya vivo hingga saat ini di Asia Tenggara. Kini, vivo bahkan memegang seluruh rantai produksi dan pengujian.

Perusahaan ini secara berkelanjutan menyediakan produk dan layanan berkualitas tinggi bagi pengguna di Indonesia. Sejalan dengan perkembangan portofolio produknya dalam berbagai seri, perluasan pabrik terus dilakukan.

Hal ini demi mendukung peningkatan kapasitas produksi dan bertumbuhnya jumlah pengguna vivo di Tanah Air. Berawal dari satu unit gedung, pusat produksi vivo kini telah mencakup dua kompleks dengan kapasitas produksi ratusan ribu unit per bulan pada 2020.

Produk smartphone dibuat di Indonesia melalui proses produksi yang diawasi oleh para tenaga ahli. Sarana pusat produksi independen ini tak hanya mendukung vivo dalam pemenuhan persentase Tingkat Komposisi Dalam Negeri (TKDN), tetapi juga menjadi ekstensi vivo dalam menjaga komponen setiap smartphone selalu berkualitas dan terstandarisasi bagi pengguna.

Proses Produksi Ketat dengan Pengujian Multilevel

Foto; dok vivo

Pada area produksi vivo di Cikupa, terdapat dua bagian untuk setiap line, yaitu perakitan

(assemblying) dan pengujian (testing). Perakitan dilakukan secara cepat dengan standar waktu tertentu untuk menyelesaikan bagian pekerjaannya masing masing.

Setiap komponen yang dirakit selanjutnya diuji dengan mesin pengujian super kompleks yang terintegrasi dengan jaringan intranet, sehingga semua hasil pengujian dapat dilacak secara online. Sistem ini juga memastikan bahwa hanya produk yang lolos dari pos pengujian tahap pertama yang dapat melanjutkan proses ke pos pengujian berikutnya.

Pada tahap pengujian, dilakukan rangkaian tes meliputi uji konsumsi arus, audio, MMI (SIM card, inframerah, sensitivitas tombol, sensor gravitasi, kompas). Kemudian, proses dilanjutkan dengan pengujian kamera, pengujian radio komunikasi atau jaringan, serta pengujian GPS dan Wi-Fi.

Area pengujian lainnya dikhususkan untuk pengujian reliabilitas atau keandalan smartphone. Ruangan tersebut memiliki barisan rak dengan ratusan slot yang dilengkapi charging line. Fasilitas ini ditujukan untuk menguji ketahanan baterai setiap unit smartphone yang dihasilkan dari rangkaian lini produksi.

Setelah itu, ponsel vivo menjalani uji fitur yang terdiri dari uji kamera depan dan belakang, sensor autentikasi sidik jari, serta fitur-fitur lain. Uji fitur ini merupakan tahap akhir dari serangkaian pengujian sebelum ponsel vivo masuk dalam tahap packaging.

Sementara itu, untuk pengemasan atau packaging, setiap smartphone vivo akan diperiksa kembali. Hal ini guna menambahkan manual book, penimbangan unit, serta penyegelan akhir produk.

Bagi vivo, tahapan packaging juga merupakan bagian esensial dalam proses produksi smartphone. Packaging dengan material berkualitas menjadi sentuhan akhir vivo dalam menghargai inovasi produk yang telah dibuat melalui serangkaian proses kompleks dalam pabrik.

Quality Control Lab untuk Menjaga Built Quality

Foto: dok vivo

Setiap seri smartphone vivo, memiliki struktur hardware yang harus diuji di Lab Pengujian Khusus (Quality Control Lab). Pengujian dilakukan secara intensif sebelum dan selama proses produksi massal.

Menurut Senior Brand Director vivo Indonesia Edy Kusuma, pihaknya ingin menyajikan produk yang berkualitas dengan standarisasi global kepada konsumen.

"Melalui ekspansi basis produksi serta fasilitas QC Lab independen, kami ingin memenuhi kebutuhan konsumen setia vivo di tanah air dengan rangkaian produk berkualitas yang telah melalui uji dengan standarisasi global," katanya.

Sampel ponsel diambil untuk melewati serangkaian pengujian ekstensif, antara lain pengecekan daya saat penggunaan tinggi (beberapa aplikasi dibuka bersamaan). Kemudian, pengujian ketahanan suhu panas 50-75 derajat Celsius dan suhu dingin hingga -20 derajat Celsius, serta pengujian smartphone saat terekspos air.

Selain itu, mensimulasikan kondisi memasukkan dan mencabut port pengisian daya saat penggunaan harian. Sampel smartphone harus melalui puluhan ribu kali tes ayunan, serta pasang dan cabut kabel charging secara manual dan otomatis oleh penguji profesional.

Masih di area Quality Control Lab, smartphone vivo juga menjalani drop test dengan menggunakan mesin khusus yang akan memutar unit hingga ratusan kali untuk menguji ketahanan bodi. Drop test dalam tahap ini bersifat free fall atau tanpa diatur posisi dan letak jatuhnya.

Setiap melewati puluhan kali uji free fall, pengecekan kondisi unit dilakukan sebelum lanjut diuji ke putaran berikutnya. Selain free fall, tipe mesin drop test berbeda juga akan menguji ketahanan setiap sisi desain smartphone yang dijatuhkan sebanyak puluhan ribu kali setiap sisi.

"Ini merupakan salah satu bentuk komitmen kami dalam memberikan pengalaman produk yang memuaskan bagi konsumen dari tahap produksi hingga purnajual," tutur Edy. (CM)

Editor : Rizqa Leony Putri