Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : AI Masuk Sekolah, Guru Diminta Tak Sekadar Jadi Pengguna Teknologi
Advertisement . Scroll to see content

Ancaman Penipuan Berbasis AI Meningkat, Teknologi Keamanan Siber Kian Dibutuhkan

Jumat, 09 Oktober 2026 - 22:05:00 WIB
Ancaman Penipuan Berbasis AI Meningkat, Teknologi Keamanan Siber Kian Dibutuhkan
Penipuan teknologi AI makin canggih, perlindungan data pribadi, identitas, dan privasi pengguna internet menjadi semakin penting. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya membawa kemudahan dalam aktivitas digital, tetapi juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk melancarkan penipuan yang semakin meyakinkan. Kondisi ini membuat perlindungan data pribadi, identitas, dan privasi pengguna internet menjadi semakin penting.

Data Global Anti Scam Alliance menunjukkan, 66 persen orang dewasa di Indonesia pernah mengalami penipuan dalam satu tahun terakhir. Ancaman serupa juga terjadi secara global. Survei terhadap 7.000 konsumen menemukan satu dari tujuh responden menjadi korban penipuan dalam periode yang sama.

Perangkat mobile menjadi salah satu titik rawan dalam aktivitas digital. Hasil survei tersebut juga menunjukkan, 48 persen responden tidak menggunakan solusi keamanan dari pihak ketiga pada ponsel mereka. Padahal, 53 persen di antaranya memanfaatkan perangkat tersebut untuk aktivitas sensitif, seperti membayar tagihan dan berbelanja online.

Seiring perkembangan teknologi, pelaku kejahatan siber memanfaatkan AI untuk membuat pesan, identitas, dan skenario penipuan yang lebih sulit dikenali. Metode rekayasa sosial atau social engineering juga dapat digunakan untuk memanipulasi korban agar memberikan informasi pribadi, mengakses tautan berbahaya, atau melakukan transaksi tertentu.

Selain itu, penyebaran malware, phishing, pencurian identitas, dan penyalahgunaan teknologi deepfake menjadi tantangan dalam menjaga keamanan di ruang digital.

Menghadapi perkembangan ancaman tersebut, perusahaan keamanan siber Bitdefender menjalin kerja sama distribusi dengan Gema Informatika Abadi (PT GIA) untuk memperluas akses terhadap teknologi perlindungan digital bagi konsumen di Indonesia.

Kerja sama tersebut mencakup distribusi berbagai solusi keamanan untuk komputer dan perangkat mobile, perlindungan identitas dan privasi, teknologi antipenipuan, serta pendeteksi deepfake.

Cakupan teknologi tersebut menggambarkan sejumlah pendekatan yang digunakan dalam perlindungan digital. Keamanan perangkat berfungsi mendeteksi dan mencegah ancaman seperti malware, sedangkan perlindungan terhadap phishing membantu mengenali upaya pencurian informasi melalui situs atau pesan palsu.

Sementara itu, teknologi perlindungan identitas dan privasi ditujukan untuk mengurangi risiko penyalahgunaan informasi pribadi. Adapun teknologi pendeteksi deepfake dikembangkan untuk membantu mengidentifikasi konten sintetis yang dibuat menggunakan AI dan berpotensi digunakan dalam penipuan.

Senior Vice President of Operations Bitdefender Consumer Solutions Group, Ciprian Istrate, mengatakan AI telah dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk meningkatkan skala dan meyakinkan target dalam menjalankan aksinya.

“Pelaku kejahatan siber menggunakan AI untuk menjalankan kampanye penipuan yang meyakinkan dalam skala besar serta menyebarkan malware, sehingga konsumen menghadapi risiko yang semakin besar,” ujar Ciprian dalam keterangan pers di Jakarta..

Direktur PT GIA, Chok mengatakan meningkatnya aktivitas perbankan, belanja, dan komunikasi melalui internet membuat perlindungan terhadap data pribadi dan identitas semakin diperlukan.

Menurutnya, kerja sama tersebut bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap teknologi keamanan siber untuk menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.

"Di tengah meningkatnya risiko kejahatan siber, penggunaan perangkat lunak keamanan perlu diimbangi dengan kebiasaan digital yang aman. Pengguna disarankan mengaktifkan autentikasi multifaktor, memperbarui sistem operasi dan aplikasi, menggunakan kata sandi yang kuat, serta memeriksa keaslian tautan dan identitas pengirim sebelum memberikan informasi pribadi," katanya.

Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap pesan atau panggilan yang mendesak untuk melakukan transfer uang, membagikan kode OTP, maupun mengirimkan data sensitif. Konten audio dan video yang tampak meyakinkan pun perlu diverifikasi melalui saluran komunikasi lain, terutama jika berkaitan dengan permintaan uang atau informasi rahasia.

Kombinasi teknologi keamanan dan kewaspadaan pengguna menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko penipuan di tengah perkembangan AI dan semakin luasnya aktivitas masyarakat di ruang digital.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut