19 Macan Tutul Jawa Berhasil Diidentifikasi di TNBTS, Lengkap dengan Rantai Makanannya
"Ketersediaan rantai pakan alami ini menjadi harapan besar bagi kelangsungan hidup macan tutul jawa," kata Ika dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan predator puncak tidak bisa dilepaskan dari keseimbangan ekosistem. Macan tutul membutuhkan ketersediaan mangsa untuk bertahan hidup, sementara populasi satwa mangsa juga bergantung pada kondisi habitat hutan yang mendukung kehidupannya.
Sepanjang Januari 2024 hingga Agustus 2026, macan tutul jawa terdeteksi di 46 stasiun kamera pengintai atau sekitar 58 persen dari seluruh titik pemantauan. Kemunculan satwa ini paling banyak tercatat di kawasan hutan yang relatif terjaga.
Untuk memperkuat data penelitian, tim juga mengumpulkan 44 sampel kotoran atau *scat* macan tutul jawa yang selanjutnya digunakan untuk pemeriksaan DNA. Metode ini membantu peneliti memperoleh informasi lebih lanjut mengenai individu dan kondisi populasi satwa tersebut.
Meski ketersediaan mangsa memberikan harapan bagi kelangsungan hidup macan tutul jawa, ancaman terhadap satwa endemik Pulau Jawa ini masih cukup besar. Beberapa di antaranya adalah fragmentasi habitat, penurunan keragaman genetik, serta potensi konflik dengan manusia.