Bintang Masif Hilang dari Galaksi yang Jauh, Penyebab Hilang Belum Diketahui
CALIFORNIA, iNews.id - Bintang masif tidak akan menghilang seperti kunci mobil yang tertumpuk surat di meja. Namun, bintang masif yang diamati para astronom selama satu dekade kini benar-benar hilang.
Bintang itu, pada tahap paling akhir dari masa hidupnya saat tim astronom yang berbeda secara teratur mengamatinya. Pengamatan dilakukan karena para astronom ingin mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai bagaimana bintang mengakhir hidup mereka.
Namun, dalam pengamatan yang diperoleh pada 2019, tanda sang bintang sama sekali tidak ada. Lalu misteri itu semakin dalam. Saat para peneliti melihat kembali melalui data arsip dari 2011 dan 2016, mencari beberapa petunjuk tentang hilangnya bintang tersebut, cahayanya hadir pada 2011 tapi hilang saat 2016.
Belum diketahui bagaimana bintang masif itu hilang setelah 2011. Kemungkinan, bintang masif itu runtuh ke dalam black hole tanpa supernova yang sebelumnya dianggap komponen penting dari peristiwa semacam itu.
"Jika benar, ini akan menjadi deteksi langsung pertama bintang monster yang mengakhiri hidupnya dengan cara ini," kata ahli astofisika Andrew Allan dari Trinity College Dublin di Irlandia yang dikutip dari Science Alert, Kamis (2/7/2020).
Agak sulit untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Semuanya jatuh di galaksi kerdil yang disebut PHL 293B, yang jauhnya sekitar 75 juta tahun cahaya. Pada jarak itu, melihat bintang individual tidak mungkin karena tidak punya teknologinya.
Namun, ada jenis bintang yang disebut variabel luminous blue yang memiliki ciri khas cahaya yang bisa dikenali. Bintang-bintang ini sangat besar, dalam skala supergiant atau hypergiant, dan pada akhir kehidupan mereka.
Dengan demikian, bintang-bintang itu sangat terang dan tidak stabil. Cahayanya dapat bervariasi secara dramatis dalam kecerahan dan spektrum saat mereka mengalami ledakan dan letusan.
Dalam pengamatan awal galaksi kerdil, tanda ini hadir, menunjukkan bintang antara 2,5 hinga 3,5 juta kali setara Matahari. Jadi, saat tim memutar keempat teleskop opstikal European Southern Observatory's Very Large Telescope menuju PHL 293B pada Agustus 2019, tidak ada yang mengejutkan.
"Akan sangat luar biasa bagi bintang sebesar ini menghilang tanpa menghasilkan ledakan supernava yang cerah," kata Allan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, mulai muncul bukti bintang-bintang memang dapat runtuh secara langsung ke dalam black hole tanpa mengalami ledakan supernova. Pada 2017, sebuah paper yang diterbitkan tentang fenomena serupa di galaksi membuat para astronot berhipotesa, bintang tersebut telah mengalami supernova yang gagal sebelum runtuh.
Berdasarkan pengamatan mereka, tim percaya bintang di PHL 293B berada dalam kondisi erupsi antara 2001 dan 2011. Dari titik ini, ada dua kemungkinan utama.
Editor: Dini Listiyani