Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Sepekan Erupsi Gunung Anak Krakatau: Dokter Imbau Tetap Pakai Masker
Advertisement . Scroll to see content

Di Balik Bencana Abu Vulkanik, Ada Manfaat untuk Tanah hingga Ekosistem Laut

Sabtu, 12 September 2026 - 11:31:00 WIB
Di Balik Bencana Abu Vulkanik, Ada Manfaat untuk Tanah hingga Ekosistem Laut
Di balik dampak abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat, material hasil erupsi gunung api ternyata juga memiliki potensi manfaat bagi lingkungan. (Foto: Dok)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Di balik dampak abu vulkanik yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat, material hasil erupsi gunung api ternyata juga memiliki potensi manfaat bagi lingkungan. Dalam jangka panjang, kandungan mineral di dalam abu vulkanik dapat berkontribusi terhadap kesuburan tanah dan menyediakan unsur hara yang mendukung ekosistem laut.

Belakangan ini, abu vulkanik kembali menjadi perhatian setelah erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan material abu terbawa angin ke sejumlah wilayah, seperti Jawa Barat, Jakarta, Banten, dan Lampung. Kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk penerbangan di sejumlah wilayah.

Namun, abu vulkanik tidak hanya dipandang sebagai material yang membawa dampak negatif. Praktisi bisnis lingkungan, Bang Sap, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya menyebut abu vulkanik membawa sejumlah material yang dibutuhkan ekosistem.

“Jangan melihat abu vulkanik hanya sebagai bencana dan memberi efek negatif aja. Kita tahunya abu vulkanik itu cuma bikin rugi: bandara tutup, ratusan penerbangan batal, perekonomian pun ikut kena imbas. Padahal, abu yang sama juga lagi diam-diam nyuburin laut di Selat Sunda,” ujar Bang Sap, dikutip Sabtu (12/9/2026).

Menurut dia, abu vulkanik mengandung berbagai mineral, antara lain silika, besi, magnesium, kalium, dan belerang. Kandungan tersebut dapat berperan dalam proses pembentukan tanah yang lebih subur setelah mengalami pelapukan secara alami.

“Ini namanya blessing in disguise. Abu vulkanik itu bukan cuma debu yang kotor. Isinya silika, besi, magnesium, kalium, belerang; mineral yang justru ditunggu-tunggu oleh para petani buat dapetin pupuk alami secara gratis,” katanya.

Meski demikian, manfaat tersebut tidak berarti abu vulkanik selalu memberikan dampak positif sejak pertama kali jatuh ke permukaan. Pada kondisi awal, abu dapat bersifat asam dan mengganggu kualitas tanah maupun air di sekitar lokasi terdampak.

“Pas baru jatuh, abu ini awalnya asam, malah bikin tanah dan air jadi nggak layak. Tapi, begitu proses pelapukan jalan bertahun-tahun, mineral itu pelan-pelan lepas ke tanah dan jadi pupuk alami. Rusak parah dulu, subur kemudian,” ujar Bang Sap.

Proses pelapukan tersebut membuat mineral yang terkandung dalam material vulkanik secara perlahan tersedia bagi lingkungan. Karena itu, dampak positif terhadap kesuburan tanah lebih tepat dipahami sebagai proses jangka panjang, bukan manfaat yang langsung muncul setelah abu turun.

Abu Vulkanik Bisa Dukung Ekosistem Laut

Selain tanah, abu vulkanik juga dapat memberikan pengaruh terhadap ekosistem laut. Ketika material tersebut terbawa ke laut, sebagian unsur dari abu dapat terlarut dan menjadi sumber nutrisi bagi organisme tertentu, termasuk fitoplankton.

“Di laut malah lebih cepat. Peneliti Islandia dan Jerman nemuin, setelah abu nyentuh air, unsur hara kaya fosfor dan besi langsung terlepas jadi sumber nutrisi si fitoplankton, yang merupakan makanan utama bagi para ikan,” katanya.

Fitoplankton memiliki posisi penting dalam rantai makanan laut. Organisme mikroskopis tersebut menjadi sumber makanan bagi berbagai organisme laut dan berperan dalam produktivitas ekosistem perairan.

Fenomena peningkatan produktivitas fitoplankton setelah masuknya material vulkanik juga pernah diamati dalam penelitian terkait letusan Gunung Kasatochi pada 2008. Sebaran abu ke kawasan Pasifik Utara dikaitkan dengan peningkatan aktivitas fitoplankton di perairan tersebut.

Meski demikian, dampak abu vulkanik terhadap lingkungan sangat bergantung pada komposisi abu, jumlah material yang jatuh, lokasi, serta kondisi ekosistem. Dalam konsentrasi tertentu, abu vulkanik juga dapat memberikan dampak negatif terhadap kualitas air, tanah, udara, hingga kesehatan manusia.

Karena itu, manfaat ekologis abu vulkanik tidak menghilangkan kebutuhan untuk melakukan mitigasi terhadap dampak erupsi. Masyarakat tetap perlu mengikuti informasi dan arahan dari otoritas terkait ketika terjadi hujan abu vulkanik.

Bang Sap menilai pemahaman mengenai siklus alami tersebut dapat membantu masyarakat melihat dampak erupsi secara lebih menyeluruh, terutama bagi mereka yang menggantungkan aktivitas ekonomi di kawasan vulkanik.

“Artinya, kamu bisa siapin mitigasi buat kerugian jangka pendek, sambil sadar ada panen jangka panjang yang lagi kamu bangun tanpa sadar. Abu vulkanik bukan musuh mutlak. Dia siklus alam yang mungkin merugikan sesaat, tapi ngasih benefit lebih lama,” ujar dia.

Dengan demikian, abu vulkanik dapat membawa dua sisi bagi lingkungan. Dalam jangka pendek, material tersebut dapat menimbulkan gangguan dan kerusakan, tetapi dalam proses alam yang berlangsung lebih lama, mineral yang dikandungnya dapat berkontribusi terhadap kesuburan tanah dan produktivitas ekosistem laut.

“Abu vulkanik bukan musuh mutlak. Dia siklus alam yang mungkin merugikan sesaat, tapi ngasih benefit lebih lama. Cocok sama ungkapan blessing in disguise: berkah tersembunyi atau kebaikan yang datang dari kejadian yang dinilai buruk. Jangan-jangan, yang kita kira bencana itu cuma cara alam untuk menyembuhkan dan memperbaiki dirinya,” kata Bang Sap.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut