Matahari Tepat di Atas Ka'bah Hari Ini, Sains Bongkar Penyebabnya!
Hingga kini, banyak lembaga falak, kementerian agama, observatorium, hingga pengelola masjid memanfaatkan fenomena tersebut sebagai momen untuk melakukan kalibrasi arah kiblat.
Masyarakat dapat memanfaatkan Rashdul Kiblat dengan cara yang cukup sederhana. Saat waktu fenomena berlangsung, siapkan sebuah benda yang benar-benar berdiri tegak lurus, seperti tongkat, tiang, atau benang yang diberi pemberat.
Amati bayangan yang terbentuk tepat pada waktu Rashdul Kiblat. Garis yang ditunjukkan oleh bayangan tersebut menjadi acuan arah kiblat dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.
Namun, metode ini hanya dapat dilakukan apabila cuaca cerah sehingga Matahari terlihat jelas. Jika langit mendung atau hujan, bayangan tidak akan terbentuk secara sempurna sehingga pengamatan tidak bisa dilakukan.
Sebagai catatan, Rashdul Kiblat berbeda dengan gerhana Matahari. Pada Rashdul Kiblat, Matahari tetap bersinar normal. Yang berubah hanyalah posisi semunya yang tepat berada di atas Ka'bah akibat revolusi Bumi mengelilingi Matahari.
Sebaliknya, gerhana Matahari terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari sehingga cahaya Matahari tertutup sebagian atau seluruhnya. Oleh karena itu, Rashdul Kiblat tidak menyebabkan langit menjadi gelap.
Di era modern, aplikasi penunjuk arah kiblat memang semakin mudah diakses. Namun, Rashdul Kiblat tetap memiliki nilai penting karena menjadi salah satu metode astronomi yang paling akurat untuk memverifikasi arah kiblat secara langsung menggunakan posisi Matahari.
Editor: Muhammad Sukardi