Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Rekor! Misi Artemis 2 Catat Perjalanan Luar Angkasa Terjauh Manusia dari Bumi
Advertisement . Scroll to see content

Para Ilmuwan Pecahkan Teka-teki Asal Air di Bumi

Rabu, 01 Desember 2021 - 15:07:00 WIB
Para Ilmuwan Pecahkan Teka-teki Asal Air di Bumi
Para Ilmuwan Pecahkan Teka-teki Asal Air di Bumi (Foto: University of Glasgow)
Advertisement . Scroll to see content

SAN FRANCISCO, iNews.id - Lima miliar tahun lalu alam semesta tidak memiliki Bumi. Alam semesta tetap seperti itu sampai sejumlah asteroid bertabrakan dan dipadatkan menjadi bola batu raksasa. 

Tapi, kejadian itu menimbulkan pertanyaan, permukaan Bumi 70 persen adalah air, jadi dari mana cairan itu berasal? Teori lama menjelaskan kelas asteroid yang kaya air, disebut asteroid berkarbon atau tipe-C, bisa saja menyambangi Bumi selama penciptaannya dan membawa air. 

Namun, ada peringatan dan asteroid tipe-C mungkin hanya setengah cerita. Kompisis air dari asteroid-asteroid itu sedikit berbeda dari yang ditemukan di H20 di Bumi, sebagaimana dikutip dari Cnet. 

Komposisi air terdiri atas banyak deuterium, yang merupakan hidrogen versi yang lebih berat. Tapi, jika semua air di Bumi berasal dari asteroid, susunannya seharusnya akan serupa. 

Sekelompok ilmuwan internasional mungkin telah memecahkan teka-teki itu. Apa objek kosmik dengan banyak hidrogen tapi tidak begitu banyak deuterium? Jawabannya adalah Matahari.

Para peneliti berpendapat jika angin Matahari -- pengusiran periodik ion hidrogen dan helium bermuatan -- bersentuhan dengan asteroid, atau bahkan debu asteroid, ion hidrogen angin akan berinteraksi dengan atom oksigen dalam partikel batuan, sehingga menghasilkan H2O.

Setelah meneliti sampel asteroid Itokawa yang dibawa kembali pada 2010 oleh wahana antariksa Hayabusa milik badan antariksa Jepang, tim tersebut mengkonfirmasi Matahari kemungkinan merupakan penyumbang kandungan air yang luas di Bumi. Mereka menerbitkan sebuah makalah tentang temuan mereka Senin di jurnal Nature Astronomy.

"Debu berbutir halus, yang diterpa angin matahari dan ditarik ke dalam pembentukan Bumi miliaran tahun yang lalu bisa menjadi sumber reservoir air planet yang hilang," penulis utama makalah tersebut, Luke Daly dari School of Geographical University of Glasgow dan Ilmu Bumi, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Editor: Dini Listiyani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut