Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Produk Lokal Ingin Tembus Pasar Ekspor? Ini Syarat Wajib Dipenuhi
Advertisement . Scroll to see content

5 Ide Bisnis UMKM Bisa Cuan Besar dari Olahan Pisang hingga Camilan Sehat

Selasa, 06 Oktober 2026 - 15:19:00 WIB
5 Ide Bisnis UMKM Bisa Cuan Besar dari Olahan Pisang hingga Camilan Sehat
Berikut lima ide bisnis bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sekaligus cara mengembangkannya. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Memulai bisnis tidak cukup hanya bermodalkan keberanian. Pelaku usaha perlu menemukan ide yang memiliki pasar, menawarkan keunikan, serta dapat dikembangkan agar mampu bertahan dalam jangka panjang.

Peluang bisnis juga dapat berasal dari kebutuhan sehari-hari yang kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah. Inovasi, pemasaran digital, peningkatan kualitas produk hingga perluasan jaringan distribusi menjadi strategi yang dapat membantu UMKM mengembangkan usahanya.

Berikut lima ide bisnis bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sekaligus cara mengembangkannya yang dibagikan para pengusaha dalam Program SETC Bootcamp UMKM untuk Indonesia (UUI) 2026:

1. Bisnis Seragam Korporasi

Bisnis fashion custom dapat menjadi peluang usaha ketika produk yang ditawarkan tidak sekadar mencantumkan logo perusahaan, tetapi juga membawa identitas dan cerita sebuah brand. Hal tersebut dilakukan Temasira. Owner Temasira, Ali Eunoia, mengembangkan produk fashion dengan terlebih dahulu memahami nilai, ideologi dan kebutuhan calon klien sebelum menuangkannya ke dalam desain.

Pemasaran melalui media sosial dan iklan digital kemudian membuka akses ke pasar korporasi. Ali mengaku awalnya tidak secara khusus menyusun strategi untuk mendekati perusahaan.

"Awalnya kami tidak kepikiran bagaimana approaching corporate. Ternyata dari iklan saja ada business owner yang datang," ujar Ali.

Temasira selanjutnya menggunakan pendekatan one-on-one untuk mengetahui kebutuhan setiap klien. Produk yang ditawarkan tidak hanya seragam kerja, tetapi juga apparel untuk kegiatan dan merchandise.

Strategi tersebut bahkan membawa Temasira bertemu calon klien dengan anggaran sekitar Rp1,5 miliar untuk kebutuhan apparel dan merchandise. Produk custom tersedia dengan minimum order mulai 30 pieces, dilengkapi pilihan material, desain dan layanan express production.

2. Bisnis Pisang Menjadi Produk Bernilai Tambah

Komoditas lokal juga dapat menjadi sumber ide bisnis dengan mengolahnya menjadi berbagai produk. Bananania memanfaatkan pisang yang memiliki daya simpan terbatas untuk menghasilkan keripik, selai, tepung pisang gluten-free hingga cookies berbahan 100 persen pisang.

Owner Bananania, Sofyani Mirah, juga melibatkan petani dalam memenuhi kebutuhan bahan baku. Pasalnya, hasil kebun sendiri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi.

Untuk menjaga konsistensi produk, Bananania menerapkan SOP dan quality control. Perusahaan tersebut juga telah menerapkan standar Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan Good Manufacturing Practices (GMP).

Produk Bananania kini telah tersebar di lebih dari 600 outlet melalui penjualan online dan offline. Usaha tersebut juga sudah menembus pasar ekspor seperti Kanada, Malaysia, Filipina, Australia dan Amerika Serikat serta mempersiapkan ekspansi ke Korea Selatan.

Pengembangan bisnis dilakukan melalui perluasan distribusi, ekspor dan co-branding. Bananania juga menerapkan konsep zero waste dengan mengolah kulit pisang menjadi bahan enzim yang digunakan sebagai pupuk.

3. Bisnis Sambal dengan Cita Rasa Khas

Sambal menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kebiasaan makan masyarakat Indonesia. Kondisi tersebut dimanfaatkan Quinn of Spicy dengan menghadirkan sambal berbahan cabai yang dipadukan dengan andaliman, rempah khas Sumatera Utara.

"Kami menggabungkannya dengan rempah khas, namanya andaliman. Menghasilkan rasa pedas dan aroma yang khas," ujar Owner Quinn of Spicy, Rudy Yanto.

Sejak berdiri pada 2020, Quinn of Spicy mengembangkan pemasaran dari kanal digital menuju modern trade. Produknya telah terjual lebih dari 400 ribu unit di lokapasar dengan rating 4,5 dari lebih dari 30 ribu penilaian konsumen.

Kapasitas produksinya mencapai sekitar 20 ribu pieces per bulan dengan melibatkan sekitar 25 pekerja lokal. Selain memperluas distribusi di jaringan modern trade Sumatera, Quinn of Spicy juga memberikan edukasi kepada UMKM dan mengolah limbah produksinya menjadi pupuk kompos.

Setelah memperkuat pasar domestik, bisnis tersebut mulai membidik konsumen luar negeri dengan mengikuti World Food Expo dan Food Hall di Singapura.

4. Bisnis Makanan Sehat

Tren makanan sehat dapat menjadi peluang bagi UMKM untuk mengembangkan produk dengan target pasar yang spesifik. Granola Addict, misalnya, menawarkan produk berbasis sereal seperti granola, muesli, premix hingga biskuit.

Bisnis milik Steven Kurniawan tersebut pada awalnya berkembang melalui lokapasar. Penjualan kemudian diperluas ke kanal offline dan business-to-business (B2B), termasuk sektor perhotelan.

Pandemi Covid-19 sempat berdampak terhadap penjualan online. Kondisi tersebut mendorong Granola Addict mencari saluran pemasaran baru dengan menyasar hotel.

Strategi tersebut membuka pasar baru, terutama di Bali yang kini menjadi salah satu pasar utama. Steven melihat sektor perhotelan masih memiliki ruang pertumbuhan karena masih banyak hotel di Indonesia yang belum digarap.

"Untuk pengembangan ke depannya, kita mungkin akan masuk ke daerah-daerah dengan pasar yang potensial ataupun nanti ke luar negeri," kata Steven.

5. Bisnis Camilan Sehat

Casa Grata menawarkan camilan yang menggabungkan aspek kesehatan dan cita rasa. Bisnis yang berdiri sejak 2018 ini menyasar konsumen yang ingin tetap menikmati makanan ringan sambil menerapkan gaya hidup sehat.

Owner Casa Grata, Jane Tanuwijaya mengatakan, produknya memiliki diferensiasi melalui pilihan gluten-free, sugar-free dan vegan serta telah memenuhi ketentuan halal. Casa Grata saat ini memiliki 10 varian rasa dan terus mengembangkan produk melalui product extension, termasuk cake flavors dan dip.

Selain menyasar konsumen individu melalui B2C, Casa Grata juga mengembangkan pasar B2B melalui berbagai kanal, mulai dari online, offline event, retail, supermarket hingga corporate dan ekspor.

Peluang baru turut dibidik dari sektor maskapai penerbangan, hotel dan resort. Casa Grata juga menjajaki kerja sama dengan buyer internasional untuk memperluas pasar.

Pengembangan tersebut dilakukan dengan meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi. Diferensiasi produk, variasi rasa dan fleksibilitas distribusi menjadi strategi Casa Grata untuk memperluas akses konsumen di dalam negeri hingga pasar internasional.

Program pemberdayaan UMKM ini memiliki 30 Collaborator Hub yang tersebar di 17 provinsi. Jejaring ini mendampingi lebih dari 2.300 UMKM secara berkelanjutan untuk memperkuat kemampuan usaha, membuka akses pasar dan meningkatkan daya saing.

Melalui pelatihan, pendampingan, jejaring kolaborasi dan akses pasar, SETC mendorong pelaku usaha membangun fondasi bisnis lebih kuat sekaligus menangkap peluang pertumbuhan di pasar domestik dan global.

Editor: Dani M Dahwilani

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut