Mengunjungi Al Shindagha Museum, Melihat Dubai Masa Lalu yang Bergantung pada Mutiara Jadi Kota Modern

Namun, Dubai harus melewati masa-masa berat. Setelah Jepang memproduksi mutiara budidaya pada tahun 1930, perdagangan mutiara di Dubai mulai menurun. Ekonomi memburuk.
Pada 1937, perjanjian minyak pertama ditandatangani dengan Inggris untuk mencari minyak di Dubai di darat. Tiga puluh tahun kemudian, ladang minyak ditemukan di lepas pantai Dubai pada 1966. Hasilnya, pendapatan meningkat dan proyek-proyek infrastruktur besar dimulai. Era baru dimulai. Singkat cerita, Dubai berkembang pesat menjadi kota modern seperti saat ini.
Salah satu rumah yang tak boleh dilewatkan saat mengunjungi Al Shindagha Museum adalah Perfume House. Di sini, indra penciuman kami dimanjakan dengan berbagai aroma parfum yang berperan penting dalam budaya Arab.
Pemandu kami Amnaa menjelaskan bahan-bahan parfum legendaris seperti oud yang berasal dari pohon gaharu, termasuk yang tumbuh di Indonesia, dan ambergris dari muntahan ikan paus. Lalu, parfum dari mawar taif yang berasal dari Kota Thaidf di Arab Saudi, musk dari kelenjar perut rusa jantan yang tidak bertanduk, dan saffron dari bunga Crocus sativus.
Yang menarik, kami bisa mencium langsung aromanya. Cukup dekatkan hidung ke alat interaktif yang disediakan, tekan tombol, dan wangi aroma oud hingga saffron pun akan tercium di hidung.