Menpar Ungkap JCWF 2025 Raup Rp6,1 Miliar dan Datangkan Ribuan Pengunjung
"Kenapa 1.500? Karena kami membutuhkan ruangan yang juga, ruangannya kecil-kecil dengan pesertanya kecil-kecil sehingga tidak terlalu ramai kegaduhan. Kalau terlalu besar, itu juga nanti yang bermeditasi akan terasa terganggu dengan lalu lintas atau lalu lalang dari peserta-peserta yang lainnya," jelas GKR Bendara.
Dia menambahkan, target pengunjung tahun ini masih difokuskan pada wisatawan domestik. Hal tersebut mempertimbangkan mayoritas pelaku wellness yang terlibat dalam festival saat ini masih menggunakan bahasa Indonesia.
Menurut GKR Bendara, wisata wellness umumnya diminati wisatawan yang bepergian sendiri atau dalam kelompok kecil. Karena itu, JCWF ingin memberikan pengalaman yang lebih intim dan tidak sekadar menjadi festival yang dipadati pengunjung.
"Memang kami biasanya kalau di wellness itu adalah solo traveling atau small group. Domestiknya kami sangat berharap masih domestik market," tuturnya.
Meski demikian, penyelenggara juga berharap pelaku industri pariwisata dari berbagai daerah, termasuk perhotelan, biro perjalanan, dan pengelola destinasi, datang untuk mengenal lebih dekat komunitas wellness di Yogyakarta.
"Next, sasaran audiens kami adalah mayoritas dari general public. Tapi kami sangat berharap bahwa teman-teman industri pariwisata yang ber-background hotel, travel, destinasi wisata, dan apapun itu dari seluruh Indonesia bisa datang dan melihat seperti apa komunitas wellness yang ada di Jogja," pungkasnya.
Melalui JCWF 2026, Yogyakarta ingin menunjukkan bahwa pengalaman berwisata tidak selalu harus diisi dengan perjalanan ke banyak tempat. Mengenal tradisi jamu, mengikuti meditasi, menikmati terapi seni, hingga merasakan suasana kebugaran berbasis budaya bisa menjadi alternatif bagi wisatawan yang ingin menikmati liburan dengan cara berbeda.
Editor: Muhammad Sukardi