Tur Virtual Digemari Wisatawan, Pramuwisata dan Pengelola Desa Diberi Pelatihan
Selain itu, pelatihan ini juga melibatkan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), yang berperan sebagai narasumber dalam teknik bercerita (story telling).
Selama pelatihan ini, pramuwisata dan pengelola desa wisata akan dilatih dan dikenalkan dengan Platform Online Meeting, Google Maps, membuat Itinerary/Rute Virtual Tour, teknik kepemanduan virtual tour, dan strategi pemasaran virtual, serta diberikan simulasi cara pembuatan virtual tour.
Wisnu berharap agar pramuwisata dan pengelola desa wisata dapat dilatih tentang pelayanan berkualitas (service excellence), cara menggali potensi (mulai dari bahan mentah, proses, produk jadi), exploring, packaging dan presenting, sehingga tercipta produk bagi wisatawan (to do, to see, to learn, to buy).
Pramuwisata dan pengelola desa wisata juga akan diberikan tugas membuat virtual tour di destinasi wisatanya sendiri, namun tetap dengan didampingi fasilitator dari Atourin dan HPI.
Diharapkan, melalui pelatihan ini, selain dapat meningkatkan kompetensi dalam penguasaan dan pemanfaatan teknologi, khususnya dalam membuat virtual tour, juga menjadi solusi alternatif bagi pramuwisata dan pengelola desa wisata agar tetap dapat memiliki penghasilan dan bersaing di masa pandemi.
"Kami berharap setelah pelatihan ini pramuwisata dan pengelola desa wisata akan mampu mengaplikasikan ilmunya dengan memproduksi virtual tour di destinasi wisatanya masing-masing, dan ini menjadi solusi atau inovasi pekerjaan baru di masa pandemi," ujarnya.
Editor: Vien Dimyati